Bahasa Indonesia, Asing di Negerinya Sendiri

26 Apr 2018 19:11 1136 Hits 0 Comments
Lestarikan bahasa Indonesia

Pada 2017, Bahasa Indonesia termasuk sepuluh bahasa terpopuler di dunia. Malah, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, ia merupakan bahasa Austronesia terbesar di dunia dan bahasa terbesar ke-4 di dunia. Selain juga termasuk rumpun Melayu. Di tingkat ASEAN, bahasa Melayu pernah diusulkan menjadi bahasa resmi. Karena digunakan oleh 45 persen anggotanya.

Di tengah kabar gembira itu, bangsa Indonesia malah semakin asing dengan bahasanya. Dari 726 bahasa daerah, 15 di antaranya telah punah, dan 139 terancam punah. Salah satu penyebabnya, karena nilai ekonominya dianggap lebih rendah daripada bahasa Indonesia. Sementara itu, bahasa Indonesia juga dianggap kurang menguntungkan dibanding bahasa asing, tak menjanjikan pekerjaan khusus, dan tak perlu keterampilan khusus seperti dokter. Sehingga, nilai UN Bahasa Indonesia pun selalu buruk tiap tahun.

Di dalam nyata, masih banyak kata-kata yang asing bagi masyarakat. Padahal, kata-kata yang umum diketahui saja masih banyak yang tak sesuai dengan PUEBI atau tak baku. Belum lagi adanya bahasa campuran, bahasa alay, bahasa gaul, dan sebagainya.

 KBBI sendiri pada edisi ke lima sudah memasukkan 127.036 entri. Lebih banyak daripada edisi ke empat yang hanya 90.000 entri. Itu pun, pada KBBI edisi ke empat dimasukkan pula kata-kata dari bahasa daerah dan bahasa asing, dengan porsi bahasa asing lebih banyak daripada bahasa daerah.

Rendahnya penguasaan bahasa Indonesia ternyata tak otomatis membuat penguasaan bahasa Inggris mereka tinggi. Studi dari Education First (EF) tentang indeks kecakapan bahasa Inggris menyatakan, kemahiran orang Indonesia menurun dari peringkat 32 (tingkat menengah) pada 2016, menjadi 39 (tingkat rendah) pada 2017. Dengan nilai rata-rata sedikit di bawah nilai rata-rata Asia.

Jadi, di mana posisi bangsa Indonesia dalam berbahasa? Bahasanya sendiri kurang digunakan dengan baik dan benar, bahasa daerah semakin menurun jumlahnya, sedangkan bahasa Inggris pun kurang mahir.

Melihat dari segi penguasaan bahasa Inggris ini Indonesia belumlah siap untuk era pasar bebas. Minh N. Tran, Senior Director, Research & Academic Partnership of EF Education First berkata, “Negara dengan kemampuan bahasa Inggris tingkat rendah menunjukkan kemampuan bangsa tersebut masih dalam tahap mengonsumsi dan belum mampu melakukan negosiasi, mediasi atau melobi, bahkan berkompetisi dengan negara lain dalam bahasa Inggris.”

 

Pentingnya Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia bukanlah alat komunikasi biasa. Bila orang Indonesia kurang memahaminya, segala keilmuan yang terkait akan merujuk ke orang asing. Banyak karya dan pemikiran ulama serta tokoh-tokoh asli tanah Melayu, yang akhirnya diteliti dan dikaji oleh para orientalis atau angkatan muda Barat. Kemudian tulisan-tulisan tersebut diterjemahkan dan ditafsirkan menurut kebudayaan, kepentingan, dan pandangan hidup mereka. Dikatakan HAMKA bahwa strategi serupa pernah digunakan Belanda dalam “Politik Etis”. Waktu itu diajarkan dan ditanamkan kebanggaan kepada bahasa kolonial serta pelemahan bahasa asli. Mereka kehilangan jiwa dan intelektualitas dalam kebudayaan leluhurnya, kemudian menggantungkan diri kepada asing.

Kongres Bahasa Indonesia di Medan tahun 1954 memutuskan, “Bahasa Indonesia adalah berasal dan berdasar kepada bahasa Melayu”. Sebagai rumpun Melayu, lunturnya bahasa Indonesia pun bisa menyebabkan kesenjangan di antara sesama negara pengguna bahasa Melayu, selain kesenjangan di antara sesama bangsa Indonesia sendiri.

Salah satu contoh pemahaman bahasa Indonesia yang salah adalah tentang pancasila. Para ahli bahasa sejak Melayu Lama (Klasik) sampai sekarang berpandangan sama, terutama di sumber-sumber asli bahasa Melayu sebagai Riau dan Johor bahwa “Kepercayaan” dalam bahasa Melayu adalah terjemahan dari “Iman” dalam bahasa Arab. Di dalam naskah asli Undang-undang Dasar 1945 dengan jelas dituliskan di ujung pasal 29 ayat 2 “Menurut agama dan kepercayaan itu.” HAMKA memandang, Agama dan Kepercayaan bukanlah dua hal, melainkan satu.

Fungsi lain dari bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Bila mengingat kembali sejarah, masyarakat Indonesia saat itu sangat kesukuan, sehingga sulit bersatu dan merdeka. Dengan bahasa Indonesia, kita bisa berkomunikasi dengan semua orang di seluruh Indonesia, serta bisa dikenali sebagai orang Indonesia. Hingga akhirnya mereka harus bersumpah untuk berbahasa satu, Bahasa Indonesia, pada saat Kongres Pemuda II (Sumpah Pemuda).

Pepatah mengatakan “Barangsiapa mempelajari bahasa suatu bangsa ia akan selamat dari tipu dayanya”. Sebanyak 45 negara telah mempelajari bahasa Indonesia dan sekitar 250 lembaga di luar negeri telah mengajarkannya sebagai bahasa resmi. Tetapi bangsa kita? Bahasa Inggris kurang mahir, sedangkan bahasanya sendiri pun meluntur.

Di sini, dunia pendidikan bisa berperan aktif mengatasinya. Tak hanya terbatas pada isi buku pelajaran atau karya ilmiah, tetapi juga bisa melalui peningkatan minat baca siswa. Berilah mereka buku-buku menarik berbahasa Indonesia baku sebanyak mungkin. Selain itu, latih juga untuk menulis dan berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terapkan aturan bahwa selama proses belajar-mengajar berlangsung, ucapan dan tulisan harus berupa bahasa Indonesia yang baik dan benar. Akan lebih baik bila semakin digalakkan gerakan literasi sekolah. Karena kenyataannya, pemakaian bahasa Indonesia baku terutama digunakan oleh para penulis, editor, dan wartawan.

 

Sumber gambar: http://kantorbahasamaluku.kemdikbud.go.id/

Tags bahasa

About The Author

Dini Nuris Nuraini 27
Pena

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel