Bahas #FilosofiKopi2 (Review)

14 Jul 2017 17:12 639 Hits 0 Comments

Film Indonesia 

Review

Filosofi Kopi 2

Sejak 2016, saya sangat selektif dalam menulis sebuh review film di blog saya: zahidpaningrome.blogspot.com . Hanya film-film yang menurut saya bagus dan memorable saja yang akhirnya saya putuskan untuk bisa masuk di blog ini. Sisanya, biasanya saya hanya menulisnya dalam sebuah thread di twitter. Jika penulis review lain memberikan sebuah bintang dari satu sampai lima untuk film yang direview. Berbeda dengan saya, jika kamu melihat sebuah film sampai berhasil masuk dalam blog ini, itu tanda bahwa saya mencintai film itu melebihi penulis review lain yang sekedar memberi bintang. Anggap saja itu bintang lima dari saya.

Filosofi Kopi 2 adalah film yang pada akhirnya harus saya tulis di blog, setelah sekian lama tidak menulis review Film Indonesia. Perkembangan film Indonesia yang sangat pesat sejak 3 tiga atau empat tahun terakhir, tidak diimbangi dengan kwalitasnya, banyak dari film-film box office yang kwalitasnya justru tidak bisa dibilang baik. Buktinya film-film yang masuk festival film dalam ataupun luar lebih banyak film-film yang jumlah penontonnya tak lebih dari seratus ribu. 

Filosofi Kopi 2 benar-benar menjadi film yang memberikanmu kesan baik setelah menontonnya, persis film pendahulunya. Sejujurnya, saya menonton dua kali dalam hari yang sama. Filosofi Kopi 2 adalah bukti kecintaan seseorang terhadap sebuah sinema, yang saya maksud adalah Angga Dwimas Sasongko, selaku sutradara. Dia tanpa kesulitan mengembangkan cerita dari kecintaannya terhadap kopi, hal yang dia temui mungkin hampir setiap hari, bersama Jenny Jusuf, Irfan Ramli, dan dua pemenang sayembara meracik cerita Ben & Jody.

Saat opening Filosofi Kopi 2 saya tak sengaja mengeluarkan kata-kata umpatan yang membuat dua orang di samping saya menegur. Umpatan itu adalah bentuk kekaguman saya pada gambar yang dihadirkan dalam sepersekian detik. Ya, gambar opening Filosofi Kopi 2 begitu terasa narkotik, ditambah visi kamera dan warna film yang membuat opening itu masih tergambar dalam pikiran saya, bahkan hingga saya menulis review ini. 

Setelah scene Ben menelpon bapaknya, kita diajak mengikuti keseruan “Genk Filosofi Kopi” di gumuk pasir, kamera dibuat slowmo, mengintimkan tokoh-tokoh yang akan menemani kita di awal film, semacam perkenalan kembali. Dan, ah! Musik di awal film itu membuat saya benar-benar jatuh cinta. Penonton diajak merasakan kehangatan persahabatan mereka, yang berkeliling Indonesia menggunakan VW Combi untuk membagikan kopi terbaik.

Sebelum Filosofi Kopi 2 rilis, Angga sempat membagikan visi dia dalam pengambilan shoot-shoot dalam film ini. Angga berujar dengan menjadikan lukisan Edward Horper sebagai refrensinya. Saya sedikit terkejut, karena sedalam itu seorang sutradara memaknai sebuah gambar pada sebuah film. Saya sedikit mengetahui Edward Horper dari bapak saya, karya-karyanya menjadi salah satu yang berpengaruh dalam seni lukis dunia. Dan ini benar-benar terlihat di Filosofi Kopi 2, seperti scene Nana berpamitan untuk resign saat kehamilannya, lalu saat Ben & Jody ditinggal dua barista (saat sebelum Jody membuka jendela combi dan Ben duduk bersandar pada dinding Combi). 

Nyawa Filosofi Kopi dua terletak pada chemistry 4 karakter utamanya, Tara, Brie, dan tentunya Ben & Jody. Saya lebih suka menyebut film ini film yang romantis, “Pure Cinematic Romance” karena gambar dan visi kamera memang terasa begitu romantis, mungkin karena Angga banyak mengambil shoot-shoot yang “intim”. Romantis karena motivasi para tokohnya, apa yang terjadi pada mereka, dan tentu juga Musiknya!

List Soundtrack dalam Filosofi Kopi 2 tak ada yang sia-sia, saya sering melihat banyak Film Indonesia menggunakan soundtrack dan musik hanya supaya terdengar keren, hal ini tidak berlaku untuk Filosofi Kopi 2. Musik menjadi bagian dalam tiap scene, pengadegan dan motivasi tiap tokohnya. Hal ini bisa mempersingkat durasi, seperti yang dilakukan film ini saat Ben mengalami “loncatan putar balik” ketika lagu Zona Nyaman dari Fourtwnty “mengudara” di film. Ini efisien, sangat efisien. Dan itu sangat berhasil dilakukan!

Konflik film ini bisa dibilang kalo saya boleh lebay, “Konflik tingkat tinggi,” karena melibatkan harga diri seorang Ben. Untung penulisnya mengakhiri film dengan sangat manis dan baik “Amazing!” saya akan memaki-maki jika ending tidak dibuat seperti itu, karena konflik sudah diberi pondasi yang kuat, sayang jika diakhiri dengan ending yang “formal” dan terkesan kurang “menukik”.

Bagi saya, salah satu film bisa dikatakan baik saat dia mampu menciptakan “trend” Filosofi Kopi menciptakan trend minum kopi dikalangan anak muda, lalu kedai-kedai kopi menjamur. Hal nyata yang saya rasakan, ketika di Kota saya kedai kopi bisa sangat mudah ditemukan, bahkan dalam jarak yang sangat dekat. Nah, di filmnya yang kedua ini, saya memprediksi trend itu akan masuk ke hal-hal yang prinsipil dari seorang Ben. Seperti celetukan-celetukannya: Babi, “Lo bunuh aja gue sekalian”. dsb. Ohiya, saya penasaran, apakah kacamata Brie akan ngetrend setelah ini? 

Hanya saja, ada beberapa detail penyutradaraan yang “luput”. Contoh: Saat Aga mengajak bicara Ben & Jody saat ingin resign setelah Nana mengundurkan diri, semacam tertukar nama, entah kesalahan atau apa. Kemudian saat Ben meminum Enervon C saat sampai di Filsofi Kopi Jogja, karena kamera tak melihatkan Ben minum, shoot selanjutnya gelas sudah tersisa setengahnya. Kemudia saat scene reviewer di Filosofi Kopi, pergerakkan Ben & Jody sedikit menyita perhatian saya, saat shoot diambil dari luar. Detail artistik saat mobil berplat AB ada di Lampung pun demikian. 

Brie adalah salah satu tokoh wanita dalam sebuah film yang sangat saya cintai. Tara, saya meyakini Luna Maya pantas mendapatkan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik melalui Filosofi Kopi 2. Ah, dan Ben & Jody adalah refleksi pasangan sempurna dalam sebuah film. Benar-benar tak terpikirkan ada aktor yang bisa menggantikan mereka. Dan Visinema Pictures bersama Angga Sasongko, sekali lagi membuktikan diri dengan “memberikan” sebuah film yang menjadi salah satu Film Indonesia terbaik yang kita punya.

Saat kita bicara tentang sekuel sebuah film, kita seharusnya tidak bicara sebuah perbandingan—lebih bagus yang pertama atau sekuelnya. Seharusnya lebih kepada sekuel ini berhasil atau tidak. Dan Filosofi Kopi 2 adalah contoh sekuel film yang berhasil. SANGAT BERHASIL!
Untuk siapa pun reviewer yang membaca ini, mari mulai mengedukasi penonton, kita juga bisa ikut andil dalam memperbaiki kwalitas Film Indonesia dengan tidak sembarangan mereview sebuah film, setidaknya itu yang saya yakini. Itu yang ideal untuk saya. Terima Kasih :))

Dan seperti kata Ben, “Kopi yang enak harus dibagi-bagi”. Film yang bagus juga harus dibagi-bagi. Mari kita kopiin Indonesia!

#BanggaFilmIndonesia #AyoFilmIndonesia #FilosofiKopi2
  

Tags

About The Author

Zahid Paningrome 28
Pena

Zahid Paningrome

Creative Writer

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel