Jangan Jadi Haji Abal-Abal

4 May 2017 16:06 530 Hits 0 Comments

11 Ujian ini sangat berat bagi para haji atau calon haji. Jarang dari mereka yang lolos.

Bagaimana dengan haji Anda?

Niatnya sih mungkin mulia, tetapi bisa membuat ibadah haji kita ternoda. Bahkan, patut dipertanyakan. Haji kok gitu?

 

Dicantumkannya haji sebagai rukun Islam ke-5 membuat banyak orang Islam ingin menunaikannya. Keinginan untuk beribadah itu kemudian tercampuri dengan hawa nafsu negatif, baik sebelum berangkat, saat berada di sana, ataupun setelah kembali ke tanah air. Label “haji” (yang konon mulai disematkan sejak zaman Belanda), menjadi sedikit “dimodifikasi” sehingga bunyinya menjadi haji “abal-abal”.

 

Beberapa public figure yang sedang terkena kasus biasanya terlihat di TV tiba-tiba melakukan haji/umroh. Tapi saya tidak membahas hal ini karena masih saya anggap baik. Setidaknya, pelampiasannya masih ke arah ibadah/jalan yang benar. Bukan ke arah miras atau narkoba misalnya.

 

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Kerjakanlah secara urut antara haji dan umrah, maka keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala untuk haji mabrur selain surga.”

(HR. Al-Tirmidzi dan beliau berkata: hadits hasan gharib. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini hasan shahih)

 

Di dalam hadits lain disebutkan,

“Barangsiapa yang melakukan pekerjaan haji dengan tidak berbuat dan berkata hal kotor serta tidak melakukan perbuatan yang fasik (zina, kejahatan), maka ia akan kembali seperti baru dilahirkan dari perut ibunya,” (HR. Bukhari).

 

Yang saya bahas adalah tentang haji “abal-abal”, sangat disayangkan mengapa bisa terjadi. Ini bukan tentang orang-orang seperti Maruli yang sudah 5 kali haji tetapi ditangkap polres Kobar karena jualan sabu. Bukan. Bukan tentang hal-hal ekstrim seperti itu. Ini hanya tentang kejadian sehari-hari seputar haji dan umroh.

 

Kalau dipikir-pikir, ibadah haji itu kan sangat mahal biayanya, belum tentu semua orang mampu. Apalagi sekarang kalau ingin berhaji konon masa tunggunya bisa sampai 35 tahun. Warga yang sudah berhaji pun tidak boleh mendaftar lagi kecuali sudah 10 tahun. Yang sudah tua-tua juga harus bersaing dengan anak-anak, karena minimal usia 12 tahun sudah boleh didaftarkan sebagai Calon Jamaah Haji (CJH). Itu belum termasuk deadline hidup kita, alias jatah umur kita di dunia. Pikirkan, apakah masih bisa tidak berhaji/berumroh lagi? Masih kuat tidak? Jadi, sayang sekali jika 1 kali ibadah haji atau umroh sekalipun tidak dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Belum tentu juga kan haji/umroh tersebut diterima.

 

Berikut ini adalah ujian-ujian bagi para haji/calon haji yang sering ditemui di Indonesia:

 

  1. Berhaji tetapi memaksakan diri

Saya pribadi memandang ibadah haji itu adalah salah satu motivasi bahwa umat Islam harus kaya. Agar lengkap rukun Islamnya. Idealnya kan begitu. Karena kewajiban berhaji hanya ditujukan bagi orang-orang yang istito’ah (mampu). Ini adalah syarat mutlaknya.

 

Istito'ah (kemampuan) itu mencakup kemampuan fisik untuk ibadah haji, sehat fisik dan punya dukungan finansial. Istitoah itu meliputi materi, kendaraan, keamanan, bekal selama berangkat haji, dan bekal bagi keluarga yang ditinggalkan.

 

Akan tetapi, ada orang-orang tertentu yang memaksakan diri meskipun “belum mampu”. Misalnya, dananya berasal dari utang, dananya tidak utang tetapi pas-pasan (setelah pulang kembali tidak punya uang/menyusahkan orang yang ditinggalkan), dan sebagainya. Kalau tidak salah saya pernah mendengar ada orang berhaji dengan nggandhol di pesawat. Ini kan sudah tidak benar caranya.

 

2. Berhaji dengan uang haram

Misalnya dengan korupsi, curang, dan sebagainya.

 

3. Berhaji melalui MLM, baik dana hajinya merupakan hasil MLM ataupun ikut agen haji yang bersistem MLM.

Orang-orang yang berhaji/berumroh melalui sistem ini biasanya tergiur karena biayanya lebih murah dibanding biaya haji/umroh secara resmi.

 

4. Berhaji dengan sistem arisan atau dana talangan

Sebaiknya tidak dilakukan. Untuk penjelasannya bisa dibaca pada:

http://elly-lutfiyah.blogspot.co.id/2012/05/hukum-haji-dengan-sistem-arisan-dan-mlm.html

dan    
http://www.jurnalhajiumroh.com/post/sanasini/-waspadalah-mau-naik-haji-kok-ngutang

 

5. Berhaji hanya untuk gengsi-gengsian

Hal ini mungkin berkaitan dengan predikat haji yang disandangnya, berapa kali berhaji, atau lainnya.

 

6.Berhaji namun sekembalinya dari tanah suci pribadinya tidak menjadi lebih baik

Saya tidak berkata tentang kaitan antara berhaji dengan menutup aurat sepulangnya dari sana, karena saya memandangnya sebagai 2 ibadah yang berbeda. Pertanyaan itu serupa dengan, “Sudah berhijab tapi kok masih bermaksiat?”

 

Idealnya, ber-Islam itu memang harus kaaffaah (menyeluruh), tetapi Allah hanya memberikan hidayah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Anggap saja, pintu hatinya belum terbuka. Didoakan saja agar bisa berubah menjadi lebih baik. Meski mungkin, dalam kasus ini serupa dengan apa yang akan saya bahas berikutnya, latihannya selama di tanah suci belum berhasil.

 

Nah, sebenarnya apa sih yang mau saya bahas? Sederhana saja, tentang ketakutan-ketakutan selama di tanah suci. Mungkin kita pernah mendengar cerita begini-begitu, hati-hati berbicara dan berucap di sana nanti akan kejadian “begini”, kalau ada “ini” harus “begini”, dan hal-hal serupa itu. Alhasil, para jamaah haji hati-hati ... banget selama di sana. Berhati-hati dalam bertindak dan berucap, dalam merasa, membunuh hewan, dan segalanya. Mbatin aja takut kok, apalagi ngerasani atau lebih dari itu.

 

Lucunya, ketika hajinya selesai (pulang dari haji) kok seperti berakhir juga kehati-hatian tadi. Yah ... balik asal deh. Mungkin mirip dengan puasa Ramadhan ya, beberapa orang akan hati-hati banget saat puasa berlangsung dan merasa terbebas saat waktu berbuka tiba.

 

Kalau dengar cerita dari orang-orang tentang balasan “kecil” di Mekah sana, seharusnya orang akan lebih takut dengan balasan Allah yang sesungguhnya di akhirat nanti. Tapi sayangnya, bekas-bekas itu tidak selalu ada. Atau memang kondisinya yang berbeda ya. Kalau saat berhaji kan orang hanya fokus untuk beribadah (ritual), sepulangnya dari sana orang kembali kepada kehidupan keseharian yang notabene tidak hanya berupa ibadah (ritual) saja. Ada yang bekerja, mengurus anak, dan berbagai kekompleksannya.

 

Pulang dari haji saja, setidaknya ada 2 ujian berat bagi para haji/hajjah tersebut:

 

a. Berkaitan dengan dirinya sendiri

Mungkin dia mendapat begitu banyak kebaikan/kemudahan selama berada di tanah suci Mekah. Ketika pulang dan orang-orang bertanya, ada kerawanan dalam diri, yaitu bisakah dia menjaga dirinya agar tidak sombong, riya, atau semacamnya?

 

b. Berkaitan dengan orang lain

Ini mungkin yang lebih sering ditemui. Hati-hati untuk tidak ngerasani jamaah haji lain yang bersamanya, tentang musibah yang menimpanya di sana. Selain mengandung unsur “ngerasani” juga mengandung unsur mempermalukan (aib). Kan ada ya jamaah haji yang berangkat bareng dengan temannya, keluarganya, atau lainnya kemudian sepulangnya dirasani dan sebut nama. Nah, ini berarti latihannya gagal selama di sana.

 

7. Berhaji tapi malah lebih fokus ke belanja atau rekreasinya

 

8. Berhaji dengan berlebih-lebihan, misal oleh-oleh hajinya

Saya tidak tahu awalnya bagaimana tetapi menjadi ini sudah menjadi budaya. Setiap orang pergi haji atau umroh seperti diharap oleh-olehnya oleh masyarakat sekitar. Biaya oleh-oleh ini jika ditotal bisa sangat mahal, belum termasuk biaya lain seperti syukuran, selametan, suguhan tamu, atau lainnya seperti yang umumnya terjadi di masyarakat. Kesemua biaya ini bisa membengkakkan biaya haji dari biaya yang seharusnya. Apalagi jika oleh-olehnya besar-besaran.

 

Terkadang, ada juga orang yang mungkin sebenarnya sanggup berhaji, tetapi tidak dengan “lain-lainnya” (oleh-oleh, syukurannya, dll), sehingga dia menunda hajinya/bahkan tidak jadi berhaji. “Lain-lain” ini sangat memberatkan.

 

9. Berhaji dengan cara ilegal

Karena daftar tunggu haji sangat lama, sedangkan kuota calon jamaah haji di setiap negara hanya 10% dari jumlah keseluruhan umat Islam di negara tersebut, maka beberapa umat muslim memilih berhaji dengan cara ilegal, misalnya:

a. Mendaftar di provinsi lain yang daftar tunggu hajinya masih sedikit.

b. Memakai visa TKI Arab Saudi, yang berupa visa kerja bebas (sepertinya saat ini sedang dihentikan sementara/moratorium)

c. Memakai visa ziarah (turis)

 

10. Memakai segala cara (negatif) untuk mencium Hajar Aswad

Hajar Aswad itu hanya batu. Dia juga bagian dari ujian Allah terhadap orang-orang yang berhaji. Mau fokus batunya atau ibadahnya?

 

11. Memakai segala cara untuk membawa air zam-zam sebanyak-banyaknya

Ini lagi. Dengar-dengar ya, membawa air zam-zam itu dijatah hanya boleh membawa sekian liter misalnya. Tetapi ada para jamaah haji yang menipu hanya untuk bisa membawa air zam-zam yang lebih banyak. Niatnya mungkin baik, biar bisa bagi-bagi lebih banyak. Tapi? Yah ... gitu deh.

 

Saya pikir, masih ada banyak hal semacam ini. Tidak hanya 11 poin. Kembali kepada ibadah, tidak hanya membutuhkan niat yang benar bukan? Tetapi caranya juga harus benar. Kita sudah berhaji? Atau akan pergi haji? Coba cek lagi hal-hal di atas! Mari introspeksi diri! Niatnya yang benar, caranya yang benar, jangan menzalimi orang lain/makhluk lain, dan jangan bermaksiat. Insya Allah, akan menjadi haji yang mabrur.

 

Sumber:

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/umroh-haji/13/04/28/mlymf3-mlm-haji-dan-umrah-termasuk-bathil

http://elly-lutfiyah.blogspot.co.id/2012/05/hukum-haji-dengan-sistem-arisan-dan-mlm.html

http://www.alkhoirot.net/2012/09/jamaah-haji-indonesia.html

http://www.jurnalhajiumroh.com/post/sanasini/-waspadalah-mau-naik-haji-kok-ngutang

Tags

About The Author

Dini Nuris Nuraini 22
Pensil

Dini Nuris Nuraini

penulis, blogger

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel