Labirin Tak Berujung (The Endless Maze) - Part 7

8 Mar 2017 01:41 4753 Hits 1 Comments
Apaaa? Sudah terlambat? Nasi sudah jadi bubur? Jadi benar aku sudah mati? Ario kaget bukan kepalang. Meski terdengar pelan dan parau, ia yakin tidak salah dengar perkataan kakaknya. Bulu kuduknya berdiri. Oh, tidaakk! Aku sudah mati!

Gambar diambil dari fitrieye.blogspot.com

 

Baca cerita sebelumnya : Labirin Tak Berujung - Part 6

 

Separuh Jiwa Pergi

 

Ario benar-benar terpukul. Hasil tes DNA yang menyimpulkan bahwa Marcel bukan anak kandungnya sungguh bagai pedang samurai yang menghujam jantungnya dan menembus sampai ke belakang. Ia merasa separuh jiwanya telah pergi.

Ia membaca sekali lagi hasil tersebut, berharap ia keliru membaca. Tak terasa air matanya jatuh begitu membaca hasil tes yang tetap tidak berubah. Tak bisa lagi menahan sesak di dada, Ario pun menangis sambil menjerit keras, “Wuuaaagghhh!!”

Jeritan tangis Ario yang membahana mengagetkan Dira yang masih bercengkrama dan bersenda gurau dengan Marcel. Marcel pun ikut tersentak kaget.

“Lastri, kamu tetap di sini jaga Marcel ya, saya mau lihat dulu ada apa!” Segera Dira berlari keluar menuju ke kamarnya. Perasaannya kalut, takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya.

“Beib, kenapa Beib?” Dira memegang pundak Ario, seketika Ario menepis tangannya.

“Aduh, sakiitt!!” Dira meringis kesakitan, lalu gantian berteriak, “Apa-apaan sih kamu! Kamu kenapaa??”

“Baca ini!!” Ario menghardik Dira sambil memberi hasil tes laboratorium yang sedari tadi dipegangnya.

“Apa ini?” Dengan ragu-ragu Dira membuka amplop itu lalu membacanya. “Aku tidak mengerti ini!”

“Ini hasil tes DNA! Ini punyaku, ini punya Marcel. Hasilnya menyatakan kalau kami hanya punya 1 pengulangan kromosom yang sama, selebihnya berbeda. Itu artinya ia bukan anakku, aku bukan BAPAKNYAA!!”

“Apaaa?? Jadi selama ini kamu melakukan tes DNA tanpa sepengetahuanku? Untuk apa Beib? Kamu nggak percaya sama aku? Marcel jelas-jelas anak kamu! Kamu sudah gila apaa?” Kini Dira naik darah.

“Jadi itu apa artinya? Tes itu bukan saja dari tes darah tapi juga dari rambut! Dan semua hasilnya positif kalau Marcel bukan anakku!!”

“Kamu benar-benar sudah gila!!” Tak tahan dengan semua ini, Dira mencoba keluar kamar meninggalkan suaminya, namun Ario menahannya.

“Kamu yang GILA!! Selama ini kamu selingkuh di belakangkuu!!” Ario memegang tangan kanan Dira lalu menggenggamnya keras.

“Ario, kamu sakiitt!!” Dira tak kuasa membendung air matanya.

“Bilang sama aku kalau kamu memang selingkuh, BILANG!! Kalau tidak KUBUNUH KAMUU!!” Ario mendorong Dira hingga ke dinding, tangan kanannya mencekik leher Dira. Ia kesetanan.

“Tidaa..aakk!!” Dira memukul tangan kanan Ario yang mencekik lehernya, berharap Ario melepaskan cekikannya. Kalimat “tidak” yang keluar dari mulutnya sempat terputus akibat cekikan kuat Ario yang membuatnya tidak bernafas. Saat itulah Dira benar-benar sangat ketakutan.

“Papii...” Suara Marcel memecah suasana. Suara itu bagai malaikat penolong yang datang menghampiri Dira. Ario mengurangi cekikan di leher Dira dan menoleh ke belakang. Ia melihat Lastri, babby sitter-nya Marcel, sudah berdiri di depan pintu kamar mereka sambil menggendong Marcel.

“Marcell...!!” Dira menangis keras, lalu berlari menuju ke arah Lastri dan anaknya berada.

“Lihat!! Kamu lihat Ario!! Ini anakmu!! Wajahnya mirip kamu bukan? Bilang Lastri! Bilang sama bapak kalau Wajah Marcel mirip bapaknya! BILANG LASTRII!!”

“Be-benar pak... Marcel anak bapak...” Wajah Lastri berubah pucat.

“Papi, kenapa papi dan mami belantem, kenapa?” Kembali Marcel ikut nimbrung.

Mimik wajah Marcel yang polos dan tidak berdosa seolah-olah menyadarkan Ario bahwa ia telah berbuat kesalahan menganggap Marcel bukan anak kandungnya. Ia pun mendekati anaknya, menggendong sambil memandang lekat-lekat wajah Marcel lalu membandingkannya di cermin. Tiba-tiba ia melihat tidak ada yang berbeda antara wajahnya dengan wajah anaknya, ia pun tersentak kaget. Oh Tuhan apa yang sudah kulakukan?

Dira melihat keraguan di wajah suaminya. Menyadari situasi itu, ia balas menyerang Ario dengan kata-kata, “Lihat, sama kan? Mirip kan?”

“Ta... tapi, kenapa hasilnya bilang beda?”

“Kenapa kamu lebih percaya hasil ini dari pada aku? Aku ibunya! Lagipula bisa saja hasil ini salah, mungkin darah kamu atau rambut kamu ketuker dengan punya orang lain. Ya jelas beda!” Dira merampas Marcel dari gendongan Ario lalu memberikan kepada pembantunya.

“Tidak mungkin, Tito orangnya teliti, tidak mungkin ia salah seperti ini. Kalau salah ia tidak bisa jadi dokter spesialis!”

“Kenapa tidak mungkin? Dia kan manusia, Atau mungkin ia tidak salah, tapi stafnya?”

“Tapii,,, Aaaaghh!!” Ario kesal sekaligus malu, sambil berteriak kembali, ia meninju tembok kamarnya.

“Ario, mungkin ini saatnya kamu jernihkan pikiran kamu dulu di sini, biar aku, Marcel dan Lastri sementara ini tinggal di rumah nenek Marcel, oke?”

“Dira, maafkan aku...., aku khilaf!” Ario mencoba memeluk Dira, tapi Dira menepisnya.

“Aku tahu kamu khilaf, itu sebabnya kita berpisah dulu sampai kamu tenang. Jangan kuatir, aku nggak akan cerita sama mama. Nanti aku bilang kalau kami ke rumahnya karena Marcel lagi rindu sama neneknya.” Dira mengambil koper besar, lalu memasukkan pakaiannya ke dalam koper itu.

“Nggak Dira. Aku saja yang pergi. Kamu tinggal saja di sini!” Ario mengambil kunci mobil dan segera beranjak keluar rumah.

“Ario!”

Ario tidak menjawab, ia bergegas menuju carport.

“Papi!” Marcel yang saat itu sudah tidak digendong Lastri, melihat papinya keluar rumah, ia pun memanggil sekaligus berlari mengejar Ario.

“Ario, kamu mau kemana?” Dira berlari mengejar Marcel lalu menggendongnya.

Ario tidak perduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Tanpa membawa baju sehelaipun, ia melajukan mobilnya kencang meninggalkan Dira, Marcel dan babby sitternya di rumah.

Dira hanya bisa memandang kepergian suaminya dengan berurai air mata. Marcel pun ikut menangis begitu melihat mamanya menangis.

Di dalam mobil, Ario menangis keras, “Aaaagghhh!! Aaaaggghhh!!”, sambil terus melajukan mobilnya kencang dan memukul setir mobil berkali-kali.

Saat belokan, tanpa disangka Ario, seorang pengendara motor lewat dan berniat belok ke arah Ario. Dengan cepat Ario memutar mobilnya berusaha menghindar dari motor tersebut. Syukur motor tersebut tidak ditabrak oleh Ario, namun karena semua serba cepat, Ario tidak mampu mengendalikan mobilnya yang masih melaju kencang dan akibatnya menabrak pohon besar di sekitar tempat itu.

“BRUUAAKKK!!”

Ario pun tak sadarkan diri.

 

Tags

About The Author

Arya Janson Medianta 39
Pena

Arya Janson Medianta

Maju terus, pantang mundur

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel