Become you - Hujan lebat

12 Feb 2017 10:20 1247 Hits 0 Comments
Jadilah dirimu sendiri

Become you Hujan lebat menyelimuti kota surabaya sedari pagi. Beberapa orang memilih berteduh disuatu tempat, menunggu hujan mereda. Begitupula dirimu, Kau berdiri didepan kaca besar dalam toilet sore itu, menatap betapa mengerikannya wajah yang ada didepanmu, âSiapa kau?â Tanyamu pada dirimu sendiri. âAku? Aku mahasiswa bodoh yang menerjang hujan lebat.â Jawabmu sambil menutup mata. âHuh...â Helaan nafasmu terdengar begitu berat, setelah memilih menerobos hujan untuk memenuhi janji dengan dosen pembimbing skripsimu dua jam yang lalu, kau malah ditolak mentah-mentah oleh beliau. âKamu mau konsultasi skripsi atau main hujan? Balik lagi besok!â. Ujar beliau saat kau sampai dipintu rumahnya dan memencet bel. Sakit memang, setelah berjuang melawan hujan lebat dengan banyak rintangan, kau malah ditolak semudah itu. Flasback 3 jam lalu... Kau tengah berdiri dihalte bus seorang diri, menunggu dengan hati waas-was bus biru datang dihadapanmu. Bangaimana tidak, tingggal satu jam sebelum jadwal konsultasimu dengan dosen pembimbingmu sore itu. Setelah menerjang hujan lebat beberapa saat lalu, dengan payung tua yang kau bawa dari tempat kosmu menuju halte ini, dengan membawa bahan-bahan skripsimu yang kau siapkan sedari pagi. Sebelum berangkat... âBuku kosong ada, Buku refrensi, 1,2,3,4,5,6,7 ada. Laptop siap, bolpoin ada, Skripsi selesai, udah semua ditas.â (Kau menutup rapat resleting tasmu) âSkripsinya dibawa aja deh, tasnya kepenuhan.â (Kau mengambil dan memegang berkas itu di tangan kananmu, merangkulnya erat) Sekarang, setelah kurang dari sejam waktu yang kau tunggu. Berbagai cobaan merintangi jalanmu. Sebelumnya kau berencana mencegat angkot didepan gang kos-kosan yang jaraknya jauh lebih dekat. Namun sayangnya, karena hujan yang lebat banyak supir angkutan yang memilih pulang, mereka pikir tak akan banyak penumpang dihari yang buruk seperti ini. setelah itu, kau berencana meminjam motor teman satu kosanmn, namun tanggapannya tak sesuai dengan harapanmu. âUjan bro, ntar motor gua nyadat dijalan malahan bikin lu susah lagi.â Alasan yang klise memang, pikirmu. Namun, dia tidaklah bersalah, itu haknya untuk menolak. Sekarang setelah menunggu hampir satu jam, kendaraan terakhir yang menjadi harapanmupun tak kunjung muncul. âHuh.... Kenapa gak muncul-muncul busnya!â Sekali lagi kau menghela nafas hari ini, rasanya beban menuju kebebasanmu begitu berat dan penuh rintangan. Setelah sekian lama menunggu, bus itu datang. Namun anehnya, bus itu melaju sangat cepat, seolah tak melihat ada tempat pemberhentian bus ditempatmu berdiri saat itu. Hingga tanpa sadar, kau melangkah mendekat kearah bahu jalan. Mencoba memberitahu bahwa kau inging menaiki bus itu. Sayangnya, halitupun menghancurkan harapanmu. Sroottt... Kau melupakan satu hal penting, air hujan menggenang dipinggiran jalan. Karena terlalu dekat dengan jalan raya, bus itu membuat seluruh tubuhmu basah dan kau melupakan berkas skripsi yang kau rangkul erat terciprat genangan air hujan. Ingin berteriak rasanya, semua usahamu seakaan akan menuju ambang kehancuran. Dosen pembimbingmu adalah orang yang paling disiplin dalam berbagai aspek kedisiplinan. Saat itu jika tak ada orang budiman yang menolongmu. maka kau akan menyerah dan kembali pulang kekosanmu membawa berkas basah dan baju kotormu. Flashback end âIni bajunya, cepat bergantilah. Aku akan menunggumu diluar.â Seseorang menyapamu dari belakang, kau menoleh sambil tersenyum. âTerimakasih, anda baik sekali pada saya. Saya akan mengganti semuanya secepatnya.â Katamu sesopan mungkin. âTidak perlu, aku menolong siapa saja yang dalam kesulitan. Setelah ini kita sekalian makan diatas yah.â Beliau pergi setelah melihatmu menggangguk mengiyakan. Kau menatap pantulan wajahmu sekali lagi. Menginggat kejadian saat mobil penolongmu berhenti tepat setelah kau terciprat air hujan karena bus yang kau tunggu. Beliau menyuruhmu naik, dan mengantarmu kerumah dosen pembimbingmu itu. senyum simpul terlihat dikaca toilet, kau tersenyum saat berfikir dibalik kesialanmu hari ini kau telah menemukan satu keberhasilan. Yakni bertemu orang baik seperti penolongmu itu. Tak lama setelahnya, kau keluar mengenakan baju barumu. Berjalan beriringan dengan penolongmu mencari tempat makan di mall besar tempatmu berada saat itu. Ditempat makan... âKau mau pesan apa? Akan aku traktir.â Tanya beliau. âTerserah anda saja.â Jawabmu malu-malu. Setelah selesai memesan. Kalian berbincang akrab hingga beliau menyinggung soal skripsi yang kau taruh di meja sampingmu. âItu skripsimu?â Tanya beliau. âIya.â âBoleh kubaca?â Tanyannya tanpa basa-basi. âTentu saja.â Jawabmu sambil menyerahkan skripsi itu. âMengembangkan air laut sebagai sumber air utama kehidupan. Judul yang menarik.â Ujar beliau begitu membaca sampul skripsimu. âTerimakasih.â Kau tersenyum lebar mendengar pujian itu. âEmh, sepertinya ide ini tak bisa kubaca sekarang. Aku akan membacanya setelah kau bergabung diperusahaanku.â Beliau menyerahkan kembali skripsimu. âApa?â Kau terkejut bukan main, apa sebenarnya maksudnya. âKebetulan aku direktur utama perusahaan dibidang perairan.â Dengan menyerahkan kartu nama, beliau tersenyum padamu. âBergabunglah dengan perusahaanku setelah kau lulus nanti. Aku akan membaca skripsimu ini saat itu.â Ujarnya menjelaskan. Senyum cerah menghiasi wajahmu. Ini adalah hari terburuk yang terbaik dalam hidupmu. Sekarang, tinggal sejengkal lagi menuju kebebasanmu. Dan kau telah melihat cahaya terang menunggu dihadapanmu. END

Tags

About The Author

yuznia anggraini 20
Pensil

yuznia anggraini

Grow up

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From yuznia anggraini