Tentang tuhan dan jalan pulang

5 Feb 2017 14:03 682 Hits 0 Comments
Opini

Pikirkan kembali apa yang baru saja terjadi. Apakah kamu mampu mengingat kejadian yang telah berlalu dalam hitungan detik? Seperti gambaran yang berkeping layaknya puzzle muncul sekelebat di pikiranmu. Bayangkan bahwa hal-hal itu terus terjadi dan tidak akan pernah berhenti menghantuimu. Kamu akan menyebutnya sebagai apa? Mimpi yang nyata atau imaji yang tersembunyi. Adakalanya kita memang perlu memberi waktu pada apa saja yang awalnya tidak pernah kita hiraukan. Konstruksi pikiran manusia terjadi pada bentuk-bentuk yang abstrak, tidak mampu diterjemahkan dalam bentuk kata atau gambar, untuk itu kita perlu bertanya, kenapa dan mengapa itu ada.

 

Bahkan aroma tanah yang tersiram hujan deras bisa menjadi aroma yang paling dirindukan, daripada sekedar aroma parfum kekasih yang biasanya kita hirup dalam rentan jarak kelembutan pelukan. Apakah kita bisa berjarak pada apa yang sebenarnya kita inginkan untuk selalu dekat? Apakah kita mampu memberi jarak? Atau apakah jarak mampu menggugurkan rindu yang ditanam beratus-ratus kilometer. Sejak kita dilahirkan, sudah ada seseorang yang selalu merindu. Bukan teman, sahabat atau kekasih. Merekalah yang terdekat, yang sibuk merindu, tertawa melihat raut muka yang entah menafsirkan apa.

 

Lalu dimana kita sekarang? Ada di pikiran kita sendiri? Atau ada di pikiran orang lain? Orang-orang yang berteriak minta dikasihani padahal minta diperhatikan. Banyak manusia tidak bisa menciptakan pikirannya sendiri, mereka sibuk terpaut pada pikiran orang lain, mencoba menggali dan mendalami apa yang ada di dalamnya, meski tidak paham betul apa yang mereka cari. Ada sebab mengapa manusia menjadikan dirinya ladang sampah bagi orang-orang sekarat.

 

Dunia memang tempat paling liar, kita tidak pernah bisa menjadi sama, selalu ada perbedaan dalam setiap jengkal fisik bahkan pikiran dan hati. Kenapa Tuhan menciptakan kita dalam perbedaan yang sangat bercabang, padahal sejatinya zat yang Maha Agung itu bisa menjadikan kita sama. Selalu ada alasan dibalik setiap kejadian, di setiap pilihan-pilihan yang ditetapkan. Apakah ada yang memikirkan hal itu? Sejujurnya aku selalu sibuk memikirkan Tuhan. Sedang apa dia sekarang, bagaimana kesehatannya melihat manusia sibuk menafsirkan apa yang sebenarnya tidak perlu ditafsirkan. Tuhanku, dimana kamu sekarang?

 

Hal-hal yang terjadi belakangan ini benar-benar menguras tenaga dan pikiran setiap orang. Meski kita bisa saja menutup telinga, kita tetap akan mendengar jika mereka terus berteriak dan minta didengar. Atau bahkan ketika kita menutup mata, apa yang kita lihat setelahnya? Hanya kegelapan, jalan buntu yang entah mengarah kemana. Atau jika kita menutup mulut, apakah kita akan membiarkan mereka yang merusak untuk terus bicara dan didengar? Kita menjadi serba salah. Tapi kita tidak boleh membiarkan, karena kehancuran bermula dari hal-hal yang dibiarkan.

 

Perlu kita ketahui, bahwa pada dasarnya kita semua ini terhubung—terkoneksi. Tapi banyak orang cenderung tidak memercayai hal-hal yang terlihat tidak rasional. Padahal, hal semacam itu mungkin saja ada. Sesuatu yang tidak terlihat  bukan berarti tidak ada. Kita hanya perlu merasakannya, mendengar dan melihatnya lebih jauh—lebih dekat. Kita benar-benar terkoneksi. Rasakan lehermu yang baru saja bergetar, seperti merasakan sentuhan lembut, itu bukan angin, itu sentuhan Tuhan. Tidakkah kau merasakannya?

 

Akhir dari semua prasangka yang ada hanya akan menjadi abu yang dibiarkan tertiup angin atau basah oleh hujan. Masihkah kita akan sibuk pada hal-hal yang kita percayai? Percaya Tuhan itu ada, bukan berarti kamu bisa merasakan bahwa Tuhan memang benar-benar ada. Kita begitu berbeda,  dan persamaan hanya dibuat untuk menyatukan. Tapi, apakah persamaan itu baik? Tidak ada yang begitu jelas mengetahui perbedaan antara baik dan tidak baik. Kita bisa saja melihat hal baik padahal sebenarnya tidak, begitu juga sebaliknya. Hari ini semuanya menjadi relatif.

 

Ada jurang pemisah antara berpikir dan merasa. Kesibukan mana yang akan kau pilih. Sibuk berpikir? Atau sibuk merasa? Kita tidak bisa memilih keduanya untuk berjalan beriringan, karena mereka dipisahkan dalam bentuk yang tidak sama, dalam pergulatannya sendiri-sendiri. Dalam permasalahannya sendiri. Lalu, sempatkah kita merenungkan apa yang telah kita pilih? Bagaimana jika pilihan kita sejalan dengan pikiran namun tidak dengan perasaan kita? Bagaimana jika pilihan kita sesuai dengan apa yang kita rasa, tapi tidak dengan apa yang kita pikirkan. Mana yang perlu kita pilih?

 

Adakah sesuatu yang dapat kita percaya melebihi Tuhan itu sendiri? Aku percaya pada kamu yang telah membaca sejauh ini. Aku percaya bahwa kamu juga merasakan hal aneh ini. Seperti ada sesuatu yang sedang mengawasi setiap langkah kita. Apakah itu menjadi penghalang atau pembuka untuk mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya. Aku percaya bahwa kamu juga percaya karena telah membaca kepercayaan yang aku bangun lewat 711 kata di titik ini. Aku menulis ini dalam keadaan tidak sadar, Tuhan seperti membangunkanku lalu menggerakkan tanganku. Aku lelah menulis cerita, aku lelah menulis puisi, aku lelah menulis. Tapi, apakah aku perlu berhenti? Bahkan jika aku berhenti sejenak saja. Hal itu akan menarikku kembali, atau mengganggu pikiranku dengan suara-suara keyboard.

 

Kini, kita telah memasuki 762 kata, dan kamu mampu bertahan pada ketidakjelasan maksud dari tulisan ini. Ikuti saja, lalu kau pikirkan setelah selesai. Selalu ada makna dari setiap kata yang dituliskan. Ada sebab kenapa kamu membaca tulisan ini, sejatinya kita adalah mesin waktu bagi pikiran kita sendiri. Kamu bisa kembali pada masa lalu melalui pikiranmu, tapi sayangnya tidak bersama hatimu. Apakah itu adil? Aku bilang ini adil, semua punya tugasnya masing-masing, semua punya tujuannya masing-masing. Jika hingga detik ini kamu belum menemukan apa tujuanmu, mungkin saja kamu adalah makhluk yang paling akhir untuk dipikirkan Tuhan.

 

Kisah hidup adalah pelajaran terakhir yang akan terus ada dan memaksamu untuk belajar, terus belajar. Pelajaran hidup adalah tentang bagiamana air mata menetes pada detik ini. Kita adalah makhluk-makhluk yang tesesat, namun kita diberi pikiran oleh Tuhan untuk menemukan jalan keluar—jalan pulang. Secerdas apapun kamu, jika tidak pernah belajar pada apa saja yang telah terjadi di hidupmu, kamu tetap saja menjadi manusia paling hina diantara yang lain. Manusia yang merugi.

 

Aku tidak bermaksud menggurui. Aku hanya resah pada kebanyakan orang yang belakangan ini mencoba menggurui semua orang. Berlagak paling tahu segalanya, paling pintar dan paling peduli. Untuk hal ini, kita benar-benar perlu memakai hati kita untuk merasakan kebenarannya. Aku percaya bahwa hati adalah bagian dari koneksi kita pada Tuhan. Tuhan tidak begitu saja memberitahumu bahwa dia menghuni inti jantung dan perasaanmu. Tuhan suka bermain-main, mengajakmu untuk berkeliaran di pikiranmu sendiri. Tuhan adalah dirimu sendiri, dia selalu menjadi bagian dari kita. Jika ada orang yang sibuk bertanya apakah Tuhan itu ada? Jawab saja, Tuhan itu tidak ada, karena kamu tidak mencarinya.

 

Aku ingin berhenti pada kata ke 1030. Tapi Tuhan masih memaksa jemariku untuk terus berkeliaran di tuts-tuts keyboard. Pada kata ke 500, aku telah meneteskan air mata, menangis—merasakan kehadiran-NYA disini. Aku tidak percaya pada apa yang aku alami detik ini, semua terjadi dalam hitungan detik. Aku melihat matamu yang ikut berkaca karena juga merasakan tentang Tuhan yang memeluk kita dari belakang. Adakah sedetik saja kita bertanya, kenapa aku harus membaca ini? Adakah sedetik itu muncul. Bahkan ketika kata itu ditanyakan, kamu tetap tidak bertanya pada diri sendiri, kenapa harus membaca ini.

 

Begitulah tugas kata dan bahasa. Menjadi salah satu perpanjangan tangan Tuhan. Aku pernah bertanya, apakah Tuhan berbahasa? Apakah Tuhan mengetahui bahasa yang kita pakai sehari-hari. Tuhan langsung menjawabnya di otak kita detik ini juga. Bahwa dia Maha Mengetahui. Sekarang, dalam wujud apa kita bisa melihat Tuhan? Sejujurnya aku tidak pernah bisa melihatNYA. Tapi kita selalu tahu bahwa Tuhan melihat kita dengan jelas. Perbatasan antara imajinasi dan pikiran bermula dari apa yang kita pikir tidak ada namun ternyata begitu jelas berkeliaran di sekitar kita. Bahkan terkadang masuk ke ruang mimpi kita.

 

Bantu aku mencari kata terakhir untuk tulisan ini. Sudah 1213 kata yang telah kita jelajahi bersama. Rasanya aku tidak ingin berhenti. Aku lelah pada drama manusia yang tidak berjiwa, mereka semua memaksa menjadi pemeran utama. Pada akhirnya aku memilih tenggelam pada pikiranku, untuk menuliskan setiap jengkal yang meminta dipungut untuk dirangkai. Daripada aku harus sibuk meladeni drama yang entah berujung kemana. Ini bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang tidak benar. Ini tentang bagaimana kita harus bersikap. Menjadi diam adalah pilihan paling tepat. Bukankah itu yang dilakukan Tuhan sejak semuanya ada?

 

 

 

 

 

 
Tags

About The Author

Zahid Paningrome 26
Pena

Zahid Paningrome

Creative Writer

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Zahid Paningrome