Kenangan

11 Jan 2017 15:45 400 Hits 0 Comments
Antara kenangan jiwa yang baru mengenal arti berhenti.

Hari ini cuaca bagus sekali. Bintang yang paling dekat dengan Bumi itu mulai memancarkan sinarnya yg terang. Aku sangat menyenangi mentari: ia selalu suka memberiku inspirasi dalam tulisanku. Selain itu, aku merasa kasihnya ibu saat mentari menyinarkan hangatnya: kau tau, saat bayi yg baru lahir lena dipelukan ibunya, seperti itulah aku merasakan bintang yg hanya berjarak kira - kira sembilan-puluh-tiga juta batu jauhnya dari Bumi itu, membalutku dengan sinar hangatnya.

Kadang, aku senang di hari-hari yg hangat seperti ini sambil duduk di bawah pohon yg merimbun. Menikmati kopi yg cukup membuat keringatku menetes namun damai. Aku suka juga dengan bangku dan meja yg disiapkan di bawah pohon yg merimbun ini: ia terbuat dari pohon yg sama. Walhal, aku sering berpikir apa perasaan pohon yg menjadi bumbungnya kepalaku ini, melihat aku duduk di atas saudaranya. Kalau saja ia punya kaki, pasti ia berlari dari harus menudungiku yg duduk di atas temannya. Haha!

Kala malam tiba, aku berlari anak ke halaman belakang rumah kakekku. Halamannya cukup  luas buatku menari sendiri dengan teman imaginasiku. Aku tidak punya ramai teman. Mereka ada, tapi hanya di kejauhan anak mataku: aku selalu melihat mereka bermain tidak jauh dari depan rumahku. Dari mereka aku belajar banyak permainan anak - anak dan aku seringkali meniru permainan mereka di halaman belakang rumahnya kakek: sendiri atau bersama teman imaginasiku yg tidak kuberi nama. Bukannya aku tidak mau berteman dengan anak - anak depan rumah. Aku ingin tapi ayah tidak membenarkanku berteman dengan mereka. Ayah bilang, nanti kau jadi sama seperti mereka. Bermain terus, jadi pemalas. Begitulah kata ayah, sampai aku bisa menghapalnya setiap kali.

Selalu, setelah jam makan malam atau sekiranya hari itu tidak hujan, aku senang bermain sendiri di hamparan rumput di belakang rumah kakek yg baru kuceritakan tadi. Ia tempat kedua yg damai selepas bangku di bawah pohon merimbun. Aku suka berbaring di hamparannya yg hangat dek karena suria tadi siang: serasa seperti kasur di kamar, pikirku. Hanya ini rumput, semulajadi dan tenunan Tuhan, seperti kata kakek. Tika berbaring sambil melipatkan tanganku di belakang kepala, aku sering berbicara sendiri: memandangi bintang - bintang bertaburan di langit seperti karpet yg kotor oleh tahi cicak, pikirku. Bintang - bintang itu ada yg terang sekali dan ada juga cahayanya seperti lampu storan yg rusak: karena katanya, ada bintang yg semu dan ada juga bintang yg nyata. Bintang semu selalu mendapatkan cahayanya dari bintang yg nyata, ibarat benalu. Namun, aku percaya ada yg lain yg menopang kedua - duanya. Jadi aku sering berpikir, jangan -jangan manusia juga ada yg seperti itu. Aku nanti bintang yg mana?

Ia hamparan yg tinggi yg tidak bisa disentuh kasar oleh jari -jariku: ia merupakan benda langit yg memancarkan cahaya entah itu untuk aku dan siapapun. Ia besar namun karena mata ciptaan Bumi itu terhad oleh Tuhan, ia terlihat kecil. Dan, ia begitu ajaib sehingga banyak tulisan terinspirasi bahkan para astronomi mengkajinya. Ia menarik perhatian banyak orang penting yg suka terheran - heran dengan kilauan yg terhasil. Mereka juga memberikannya gelaran yg unik. Mereka semua mengungkapkannya menurut logisnya akal pikiran mereka tapi aku lebih percaya pada imaginasiku: ada Tuhan yg mengantungkannya seperti bintang palsu di dinding kamarku. Sekalipun, aku pernah membaca di mana - mana buku sains ternyata ia terbentuk oleh komposisi gas hidrogen dan helium serta partikel debu. Lucu! Tuhan pasti sedang mengolok - olok anak manusia.

Tidak lupa pula, aku berbintang skorpio. Aku selalu melihat bintang itu di langit. Faktanya, ia penunjuk arah tenggara atau timur langit. Ia unik, aku tidak sedang memuji diriku. Ia benar - benar unik dengan bentuknya. Tapi, kenapa ia berbentuk seperti kalajengking?  Aku pasti takut dengannya, kalau - kalau ia muncul dari hamparan hijau ini. Hewan beruas yg beracun bisa membunuh anak manusia melalui sistem transmisi saraf sang korban. Aneh, beracun tapi berguna bentuknya sebagai penunjuk arah zaman purba. Bahkan sudah tercipta sejak empat-ratus-juta tahun yg lalu. Tapi aku tak heran tentang lamanya ia hidup, manusia pula pernah hidup pertama Tuhan menciptakan Bumi dan langit dan segala isi - isinya. Ah! Betapaku rindu membaca Buku itu, di bukaan yg pertama dalam Kejadian. Aku suka akan keajaiban yg nyata.

Sesekali aku memutar - balikkan badanku di hamparan rerumput hijau itu: ia berguna buat anjing yg lagi sakit. Aku pernah terlihat anjing jagaan kami, ketika sakit ia mencari rumput di depan rumah ayah. Tapi saat ini ia kasur bagiku. Selalu tumbuh tinggi - tinggi demi membuat kakekku sebal harus mencantasnya setiap kali. Aku pasti ia tertawa melihat kakekku yg mengeluh lalu mencantasnya pendek lalu botak lagi. Dan di musim kemarau, ia kering. Di waktu - waktu itu, kakek dan aku selalu menimbunnya di ujung pagar lalu membakarnya. Karena saking senangnya dengan bau kepulan asap terhasil aku berlari kerumahku tidak jauh dari rumah kakek, membuka jendela kamarku, demi mengizinkan asap dan baunya masuk. Aku sungguh - sungguh senang dengan bau asap. Bahkan, sampai saat ini ia selalu mengembalikan memoriku pulang ke tempat lahirku.

Itu kisah lalu. Kenyataannya ialah sekarang. Di detik ini, aku hanya di sebuah kamar di ujung kota. Di ujung kota yg bising, di mana mencari udara segar sukar sekali. Aku susah menemukan mataku berhenti lama di sebuah tempat karena segera ia menjadi sebuah bangunan baru menapak lagi dan lagi, ibarat rahim perempuan mandul yg takkan pernah puas meminta - minta, begitulah kota ini, terus meminta untuk dijelajahi oleh anak manusia. Ada pembinaan di mana - mana. Ada kepulan asap dari debu - debu berterbangan: dari kilang - kilang. Orang - orang yg membenci kejadian ini sekaligus menjadi penyumbang berhasilnya tapak - tapak itu ada. Mereka bekerja dan mencari ruang kosong dijadikan lapak pembangunan manakala di malam hari mereka duduk di bangku kedai kopi si janda cantik, mengeluh tentang penipisan lapisan ozon. Tidak sadarkah kau, itu ulahmu? Aku tidak menyuarakan apa - apa. Hanya tertawa dan bertanya dalam hati. Kau tau, manusia terlalu egois untuk mengakui kesalahan diri, aku sering begitu jadi aku tau. Bedanya, aku tidak di tempat mereka, semoga terus begitu.

Malam ini aku sendiri seperti dulu. Bedanya, kamarku tidak punya jendela yg bisa kubuka dan melihat indahnya hamparan hijau di ujung mata kiriku dan karpet langit di atas kepalaku. Ia tidak punya itu. Hanya hening dan bunyi kipas angin, kadang ada teriakan tawa - tawa teman serumahku yg sedikit menyebalkan. Kamar ini juga tidak mengizinkanku menghembuskan kepulan asap kedalamnya. Aku tidak bisa berlari keluar dan berbicara kepada teman imaginasiku, ia pun telah lama pergi, mungkin merantau ke anak kecil yg lain. Aku sudah terlalu dewasa buatnya lalu ia pergi tanpa mengatakan apa - apa.

Bangku dan meja di bawah pohon merimbun sudah berlumut hijau. Pohonnya tak merimbun lagi dan mungkin akan ditebang, kata ibuku. Akan ada kerusi batu yg akan duduk di situ tak lama lagi, tambah ibu. Aku diam. Sepertinya, memori itu juga harus kutebang. Mungkin nanti bila aku pulang lagi, aku tidak sedih merindukannya.

Tapi mentari tetap sama bersinar hangat, hanya saja lebih menyengat dari biasanya. Bintang tetap terhampar. Tapi aku tak punya tempat perbaringan lagi buat menikmatinya, kerusiku sudah ditebang entah oleh siapa.

Aku pula, sudah benci untuk pulang ke kota memori kecilku.

 

Tags

About The Author

Ranti Karr 8
Kapur Tulis

Ranti Karr

An unofficial writer. An Introvert. Specifically, INTJ with Turbulent personality.

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Ranti Karr