Terbang Di Langit Papua (Bagian 2)

10 Jan 2017 16:58 383 Hits 0 Comments

Pada suatu hari, di musim semi yang mempesona mata memandang sekeliling kota dengan taman - taman bunga mungilnya yang cantik.

Pada suatu hari, di musim semi yang mempesona mata memandang sekeliling kota dengan taman - taman bunga mungilnya yang cantik.

Hari demi hari aku lalui dengan bekerja dan ketika hari telah beranjak siang, tepat pukul dua, aku pun meluangkan sedikit waktu untuk beristirahat setelah selesai bekerja seharian penuh dengan jalan - jalan menikmati indahnya kota Linz. Kota ini merupakan kota kecil yang identik dengan perpaduan antara budaya, teknologi dan bisnis yang bisa dilihat pada berbagai pusat perbelanjaan yang banyak menawarkan aneka barang ekslusif seperti parfum, fashion, kios - kios bunga maupun kafe - kafe khas kota Linz dengan sejuta aneka hidangan mancanegara yang menebarkan pesona harum untuk dicicipi oleh pengunjung kota.

Cuaca sangat cerah dan hangat dari sinar matahari di awal musim semi ini membuat semua orang bersemangat dalam menjalankan aktivitas mereka di luar ruangan. Terlebih sebentar lagi dibarengi dengan musim panas. Kami biasanya memanfaatkan hari - hari yang indah ini dengan piknik atau sekedar berjemur bersama yang tercinta di pantai. Hampir semua taman - taman kota maupun tempat rekreasi lainnya pasti penuh dengan orang - orang lokal maupun turis mancanegara berbaur menjadi satu menikmati liburan akhir pekan mereka yang tentunya sangat menyenangkan. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah restoran terletak tidak jauh dari sekolah kami, Harry’s Home Linz dimana aku pertama kali bertemu dengan dia, seorang pemuda tampan bernama Fabian Cambrie.

Perkenalan kami berlangsung singkat, kami duduk berdua satu meja dan memesan menu makan siang yang sama. Lalu berpisah, dia meninggalkan selembar kartu nama untukku, tertulis nama, nomer yang bisa dihubungi dan kantor serta alamat rumah dia sewaktu - waktu aku bisa menghubungi. Dua hari kemudian dia kembali ke Amerika meninggalkan aku yang masih enjoy menikmati hari - hari dengan menekuni profesi menarik ini.   

Hingga tepat di valentine’s day, aku menerima selembar kartu bergambar jantung warna merah muda, kubuka perlahan terdengar alunan musik instrumentalia sangat merdu menusuk kedua gendang telingaku.

You were as a another star in the month
while happened will be in my universe

Never to be two million day would we get close
at least that’s what we hope thought

As you give me the sun

One that can not be ……..

Aku mengambil sepeda miniku, perlahan - lahan kukayuh menuju taman kota, duduk sendirian pada sebuah bangku kayu tua di bawah sebatang pohon rindang Eukaliptus berbatang aneka warna, hijau untuk yang baru tumbuh, kuning dan merah untuk batang dewasa serta cokelat menjelang pohon – pohon ini jatuh berguguran karena usia tua. Lalu sebuah truk mini berhenti di sebelahku menjajakan aneka makanan burger. Memang di setiap sudut dari taman ini selalu menarik sejauh mata menyapu alam dan menikmati aneka bunga - bunga di musim panas yang terhampar luas, merah, kuning, ungu, oranye dan putih di sekitar beberapa kompleks bangunan bersejarah yang juga banyak terdapat di taman ini. Bunga dengan beragam corak warna – warni mampu menyentuh dan memberi kesegaran serta kedamaian di hati terutama buat mereka pengunjung setia taman ini. Beragam restoran, bar, kafe hingga truk mini berisikan aneka hidangan lezat berjejer rapi di sepanjang trotoar kota, menyediakan kuliner terutama jajanan kaki lima sampai hidangan kelas hotel bintang lima ada di dalamnya. Aku melirik ke dalam truk, hmmmmmm …. panas - panas begini paling cocok menikmati segelas jus segar dan sepotong burger Eropa, aku bangun menuju ke pedagang kaki lima tersebut, memesan satu potong jumbo Chicago Dogs/sejenis hot dog, beberapa potong Spiral Cut/sosis bakar dengan bumbu spesial dan segelas dingin Avocado Coffee Juice, sungguh nikmat !

Satu bulan berlalu begitu cepat, aku dan Fabian menjalani satu hubungan yang serius, kami berencana untuk mengadakan perjalanan yang pastinya akan sangat menyenangkan yaitu ke salah satu pulau tercantik yang ada di Indonesia, Papua Jayapura. Hari Minggu pagi tepat pukul tujuh, kami tiba di Bandar Udara Internasional Sentani, bersama - sama anggota rombongan lainnya serta di bawah arahan dari seorang tour guide, kami langsung menuju ke Raja Ampat yang mempesona.

Teriknya sinar matahari di siang hari dan udara segar nan cerah memancing aku untuk segera menyelam menikmati pesona cantik laut Raja Ampat yang dari pesisir pantai terlihat pemandangan laut lepas berwarna biru, hijau dan putih terbentuk dari banyaknya terumbu karang berwarna – warni terdapat di dasar laut yang dangkal maupun terdalam.

Kami juga menginap tidak jauh dari area wisata menyelam yaitu di Papua Diving, merupakan resor eksotis yang menyediakan fasilitas wisata terlengkap bawah laut di kawasan ini, menjadi daerah wisata favorit para turis mancanegara terutama mereka yang menyukai olahraga selam seperti aku dan Fabian yang betah selama berjam – jam mengarungi keindahan lekuk - lekuk dasar laut Raja Ampat yang terkenal paling indah seakan kami berdua tak ingin kembali lagi ke Austria karena kami telah menemukan pulau surga tak ada bandingnya di belahan bumi ini.

Penginapan tempat kami beristirahat juga berarsitektur sangat sederhana, dengan bangunan khas Indonesia berdinding serta beratap dari anyaman daun kelapa, namun tidak mengurangi sisi keindahan dan kenyamanan para turis yang sedang berlibur di sini. Turis selain dimanjakan dengan kegiatan utama yaitu menyelam dimana lokasi penyelaman di sini luas dan beragam, dengan keindahan terumbu karangnya yang membuat banyak pilihan sehingga mengundang mereka untuk selalu datang dan datang lagi ke tempat ini buat berlibur atau untuk keperluan suatu pekerjaan.

Saat senja mulai menyapa.

Lelah menyusuri cantiknya pantai Raja Ampat, kami segera menuju ke restoran Sunset, untuk dinner. Restoran ini memiliki tempat yang nyaman untuk bersantap semua jenis hidangan seafood sambil mata tak lepas memandang indahnya sunset di sore hari. Dari pinggir pantai, dengan halusnya butir – butir pasir putih melekat di telapak kaki kami yang telanjang, kami juga disuguhi pemandangan yang sangat langka berupa atraksi alam dari segerombolan besar ikan terbang meloncat secara bersamaan ke udara kemudian kembali ke permukaan laut dimana mereka sangat kompak dalam menentukan tujuan perjalanan mereka selanjutnya. Sesekali petugas keamanan laut menarik perhatian ikan - ikan kecil tersebut agar mau mendekat ke pinggir laut dengan cara melemparkan remah – remah makanan kecil dimana mereka akan berebut menikmatinya bersama – sama dengan rombongan burung camar yang juga gemar bermain di pantai ini, membuat lengkap keajaiban alam yang secara gratis dapat kami nikmati di sore hari ini.

Dan keesokan harinya, kami melanjutkan acara jalan – jalan mengelilingi kota Jayapura hingga menjelang malam tiba, Fabian berhenti di salah satu pusat perbelanjaan untuk mencari sesuatu yang sangat penting, sementara aku tetap tinggal di dalam mobil menunggu dia kembali.

Fabian berjalan agak tergesa – gesa menuju sebuah toko perhiasan khas menjajakan bermacam – macam suvenir perhiasan dari emas putih/kuning dan batu permata Cyclops merupakan batu warna warni berasal dari pegunungan Cyclops kabupaten Sentani kota Jayapura, sangat menarik dikombinasikan sebagai mata cincin.dan pelengkap aksesoris wanita lainnya. Mempunyai bentuk unik dan beragam warna, cocok sekali dipakai sebagai hadiah atau koleksi perhiasan wanita tercinta Anda.

Selanjutnya kami menuju ke taman nasional Teluk Cendrawasih. Terletak di jantung Pulau Papua dan adalah salah satu taman nasional berupa perairan laut terluas dan paling indah yang ada di Indonesia. Taman Nasional ini terdiri dari daratan dan pesisir pantai, daratan pulau - pulau, terumbu karang, dan perairan lautan. Mempunyai 14 jenis flora langka seperti pohon kasuarina. Terdapat juga 36 jenis burung, dimana 18 adalah burung langka, 196 jenis moluska, 209 jenis ikan, dan sisanya adalah beberapa penyu (penyu sisik, hijau, belimbing dan sisik semu). Laut di tempat ini sangat nyaman untuk habitat dan kembangbiak paus juga ikan lumba - lumba. Kita dapat melihat kedua jenis hewan ini bisa tinggal dan berenang dengan tenang tanpa khawatir akan pemburu paus atau pun lumba – lumba liar. Disamping sangat mudah bagi mereka untuk mencari makanan yang telah disediakan oleh alam Teluk Cendrawasih nan mempesona ini. Di pinggir teluk inilah aku dan Fabian berjalan – jalan sambil berpegangan tangan satu dengan yang lain, sangat mempesona mata memandang, beberapa turis asing bahkan menganggukkan kepalanya kepada kami berdua sebagai perkiraan mereka bahwa kami adalah sepasang pengantin baru. Memang akan terjadi …… Fabian tiba – tiba menghentikan langkahnya, aku bertanya , “ Mengapa ? “

Begitulah awal hubungan kami menjadi sepasang kekasih meski belum mempunyai rencana untuk segera melangsungkan pernikahan.

Hujan saljut sangat lebat turun menyelimuti komunitas St. Magdalena Linz Austria dimana seorang gadis belia, Grace Mace, sembilan belas tahun menutup sekolah untuk liburan Natal dan tahun baru. Dia berharap untuk memiliki waktu ekstra membantu keluarga mempersiapkan liburan panjang mereka, dan dia berharap agar mendapatkan beberapa gambar indah, lanskap bersalju dari Pebble Creek.

Pacaran dengan Fabian Cambrie, yang baru mereka jalani sejak enam bulan terakhir, dan Grace tidak sabar untuk memberikan hadiahnya : sebuah mainan kereta terbuat dari kayu, di selimuti warna biru dan cokelat. Ya, Natal ini akan menjadi sangat menyenangkan. Namun, di tengah sorakan dari pertunjukan snowshoe, church potlucks, dan acara - acara hiburan lainnya. Juga  di tengah maraknya suasana perayaan Natal dan tahun baru, Grace seperti diberi pengingat pahit kisah sunyi Natal di desa Heiligenblut, sebuah desa cantik di Austria. Setitik duka dalam seraut wajah cantik Grace hadir mengganggu suasana hangat perayaan, dan meskipun masa depan mereka berdua masih belum terlihat jelas, dia selalu berharap dan berdoa, untuk menghangatkan hati bahwa Allah tahu hubungan serius yang terjalin diantara mereka sebelum mereka akan selalu melakukan dan menyediakan ! Hingga detik terakhir perayaan Natal dan pesta kecil tahun baru usai, orang teristimewa yang ditunggu untuk bersama - sama merayakan Natal dan meriahnya perayaan tahun baru, ternyata tidak bisa hadir karena tugas kantor lebih diutamakan !

Sulit untuk dipercaya bahwa Grace dewasa telah jatuh cinta. Natal di Pebble Creek adalah sebuah cerita menarik yang hanya terdiri dari beberapa halaman, Anda bertanya, meskipun jawabannya adalah ya, jangan biarkan hal sekecil apa pun untuk menghentikan langkah Anda dari membacanya, karena Anda pasti akan merasa kehilangan. Natal di Pebble Creek bercerita tentang salah satu karakter paling menawan dari seorang Grace. Dan orang - orang di beberapa halaman berikutnya turut serta menceritakan kisah yang indah ini. Anda akan melihat Pebble Creek melalui mata Grace, dan Anda tidak akan kecewa.

The end !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About The Author

Nila 47
Pena

Nila

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel