Rumah Kita

5 Jan 2017 23:50 762 Hits 0 Comments
Ayolah, kita bangun negara ini. Tidak maukah kalian, ketika kalian berada di luar negeri dan ditanya..”Where are you came from??” dengan lantang kalian jawab “INDONESIA” dan orang-orang akan kagum dengan jayanya Indonesia, luasnya, megahnya dan hebatnya Indonesia… Tidak maukah kalian seperti itu. Tidak maukah kalian pada saat orang mendengar nama INDONESIA, orang-orang langsung terpaku dan terpesona.

Panasnya Jakarta terasa semakin panas menjelang masa Pilkadal saat ini. Aura panas mulai terasa semenjak beberapa bulan lalu apalagi di penghujung 2016. Kondisi Jakarta, yang merupakan ibukota negara ini bisa dijadikan tolak ukur bagaimana kondisi negara ini. Jakarta merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai daerah bahkan luar negeri sekalipun, ya.. di sinilah tempat orang banyak mengadu nasibnya, mencoba peruntungannya.

Every act is political act.
Berbagai hal banyak yang terjadi dan semakin menjadi-jadi apalagi dalam masa Pilkadal ini. Mulai dari masalah kesejaterahan, penggusuran, korupsi, sara, ekonomi, makar, demo, kenaikan harga, ...apalagi?? semua bercampur menjadi satu. Saling tindih menindih, tergantung gossip mana yang lebih ter-anyar dan terpanas.

Apalagi di jaman teknologi informasi terbuka saat ini, semua orang bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Tetapi jeleknya, semua orang juga bisa menyebarkan informasi apapun terlepas dari benar atau salah. Konsumen informasinya?? Hehmm.. gk yakin sih semua cukup pintar untuk menyaring itu semua. Jangankan informasi dari media personal, bahkan dari media yang sudah cukup ternamapun masih diragukan. Ada kepentingan di balik itu semua. Bagaimanapun juga, media-media itu bukanlah lembaga non-profit. Bijaksanalah menggunakan teknologi.

DI era teknologi terbuka ini jugalah, orang bebas mengutarakan pendapatnya, disukung oleh teknologi saat ini…Cuma bermodalkan handphone,social media, semua orang bisa mengeluarkan pendapatnya, opininya,pilihannya, pendiriannya dan lainnya… bahkan foto kucing kesayangannya. Yah seperti halnya tulisan ini juga, adalah pemanfaatan teknologi itu sendiri. Tetapi, apakah sudah sesuai aturan? (read: UU ITE). Bijaksanalah menggunakan teknologi.

Semua saling berlomba-lomba mengemukakan pendapatnya, semakin hari semakin frontal malah. Ada yang isinya keunggulan-keunggulan dari apa yang dia bela, ada yang isinya kesalah-kesalahan dari pihak lain, ada yang isinya hinaan-hinaan, caci maki, dan lainnya. Semua berpikir dirinya benar, gelap mata dan membabi buta.       Bijaksanalah menggunakan teknologi.

Sedih, kesal, marah, emosi ziwaa setiap kali melihat hal-hal itu terjadi. Bukan ‘tempat’ yang nyaman lagi untuk disinggahi. Saya paham dengan makna kebebasan..sangat paham. Semua orang bebas untuk mengeluarkan pendapatnya…kebebasan…itu akan dijadikan kata kuncinya.

Tetapi kebebasan pun ada aturannya. Haruskah dengan menyakiti orang lain, menyinggung orang lain, menghina orang lain? Setiap orang memiliki kebebasan untuk keyakinan,pendirian masing-masing, hargailah itu. Masih banyak cara yang baik yang bisa kita pakai. Katanya orang timur, menjunjung budaya timur, tata krama dan sopan santun… “Oh..itu cuma kritik..anda tidak bisa menerima kritik??!!!” Kritik juga ada yang bersifat membangun tetapi juga ada yang menjatuhkan… Yang mana yang kita lakukan?

Gk ada satupun manusia di dunia ini yang memiliki hak hidup atas manusia lainnya. Setiap manusia dilahirkan bebas. Otomatis, tidak ada alasan untuk menyakiti manusia lainnya. Bayangkan apa yang kita lakukan ketika kita menghina orang lain, bukankah itu artinya kita secara tidak langsung dengan mencemooh apa yang orang lain yakini berarti kita membenarkan apa yang kita yakini? Bukankah secara tidak langsung kita sudah menyatakan "pengaturan" atas hidup orang lain, merampok hak dia?? Atas dasar apa? Punya hutang apa manusia itu sampai-sampai kita berhak mengatur apa yang harus dia yakini??? Manusiakah kita??

Tidak ada satupun manusia yang mempunyai hak hidup atas manusia lainnya...manusia sedari lahir memiliki hak untuk hidup dan kebebasan.

Saya juga paham dengan jiwa ‘kepahlawanan’ dari manusia…”oh…saya harus menunjukan kebenaran kepada orang itu!!!apapun caranya!” Kebenaran itu bisa adalah sebuah fakta tetapi juga bisa hanya masalah perspektif vrooh..

Ayolah, ini negara kita, rumah kita…mari kita bangun bersama-sama. Ibarat sebuah organisasi, negara ini juga punya tujuan..menjadi yang terdepan salah satunya…*bukan motor doang mau jadi yang terdepan*. Kita ini adalah orang-orang yang bisa berperan untuk mencapai tujuan itu. Saya paham dari sekian juta kepala di republic ini, susah sekali menyatukan isi kepalanya. Seperti sebelumnya, semua punya kepentingan. Tapi hey… kalau dihitung per kepala..jumlah yang punya kepentingan itu pasti sedikit dari jumlah yang tidak punya kepentingan… jangan mau menjadi korban pemelintiran untuk kepentingan pribadi kepala-kepala itu.

Saya akui, bahkan dalam team kecil sebuah project sekalipun, ada saja pihak-pihak yang selalu berseberangan..kenapa harus gitu??

Kita ini satu team, satu organisasi, satu tujuan....kenapa tidak saling mendukung. Oke, walaupun ada perbedaan pendapat atau sikap di antara kita..separah itukah sampai tidak bisa dibicarakan lagi? separah itukah sampai kita harus mengorbankan tujuan besar dari team? Pantaskah kita mengorbankan semua demi kegagalan dan ketidakstabilan?

Coba sedikit berpikir positif dan beri kepercayaan. Biarkan pemerintah kita bekerja, percayalah kalau tujuan mereka juga membangun negara ini. Kalaupun kita tidak percaya, toh kalian juga punya orang-orang yang sudah kalian tunjuk untuk mewakili kalian di pemerintahan kan? Pemerintahan bukan hanya presiden/wakil/menteri tetapi semuanya.  Biarkan mereka, orang-orang PILIHANMU itu bekerja, memperjuangkan apa yang kita percaya. Kalian tidak memilih? Terus? Mau menyalahkan orang lain? Kamu pikir ini republic punyamu?

....

Gk usahlah menghina presiden, walau bagaimanapun presiden adalah simbol negara ini. Kalau kita sendiri menghina symbol dari negara kita, apa yang kita harapkan dari luar sana pandangan orang lain terhadap negara kita.

Negara kita memang banyak keyakinan yang berbeda-beda..Tetapi hey, pemerintah sudah mengakui itu loh. Negara kita ini luas…luas sekali. Cobalah jalan ke pelosok negeri ini, dan liat betapa luas dan beranekaragamnya. Sekali-kali jadilah minoritas di tempat lain, jadilah minoritas dari minoritas di tempat lain, jadilah mayoritas di tempat lain…Lihatlah bagaimana keberagaman di tempat lain dan bagaimana mereka bisa bersama-sama. Jangan berpikir negara kita ini hanya Jakarta, gk mau kan dibilang kurang piknik.. Buka mata dan lihatlah keanekaragaman negara ini. Gk mau menerima perbedaan? Mau menjadi negara yang tertutup dari dunia luar? Heyy, pemerintah gk pernah mengeluarkan peraturan untuk melarang ‘yang beda-beda’ itu untuk tinggal di negara ini loh. Itu baru Indonesia.. Mau ngomongin manusia?? Please deh… planet ini bukan punyamu seorang sama keluarga-keluargamu… Ada yang ngelarang manusia-manusia ‘beda’ untuk tinggal di planet ini? Kamu pikir planet ini punyamu?

Cobalah berpikir positif menyikapi kenaikan harga, mungkin digunakan untuk pembangunan, asset, fasilitas pendidikan atau lainnya. “Apaan!! Gk ada keliatannya!!!”. Dulu waktu sekolah juga bilangnya buang-buang uang tetapi setelah bertahun-tahun ‘buang uang’ ada orang yang mau nerima kamu kerja karena membutuhkan otakmu, itu pembangunan atas dirimu, emang dulu keliatan?. Pembangunan secara fisik mungkin di tempat lain yang masih jauh dari pembangunan, atau bisa jadi digunakan untuk membayar tenaga-tenaga ahli untuk mendukung aktifitas kita..yang nantinya  juga membangun kondisi negara kita. “Ahkk… masih gk keliatan!!!” “SABAR CONGGG…!!!”

Cobalah berpikir positif menyikapi tenaga dari luar Indonesia. Ini jamannya pasar bebas dan Indonesia sudah menerima itu. Daripada menggerutu kita dikeroyok tenaga luar, kenapa tidak meningkatkan kemampuan kita untuk bisa bersaing dengan orang-orang itu?? Kalau kita memiliki kemampuan kenapa harus takut bersaing dengan mereka? “Akh… tetep aja, gaji kecil, barang-barang naik”. Yah makanya..tingkatkan kemampuanmu, orang akan bayar mahal untuk itu.

Kita orang-orang berpendidikan, kitalah yang punya tanggung jawab membangun negara ini. Kalau bukan kita terus siapa? Buktikan kalau kita memang berpendidikan... tunjukan logika kita..cara beradab kita. Gk usah berlomba untuk saling menjatuhkan tetapi berlombalah untuk saling membangun. Perbaiki mental kita...mental orang yang berpendidikan, mental orang yang beradab... Katanya menjunjung tinggi budaya timur...???:D

.....

Ayolah, kita bangun negara ini. Tidak maukah kalian, ketika kalian berada di luar negeri dan ditanya..”Where are you came from??” dengan lantang kalian jawab “INDONESIA” dan orang-orang akan kagum dengan jayanya Indonesia, luasnya, megahnya dan hebatnya Indonesia… Tidak maukah kalian seperti itu. Tidak maukah kalian pada saat orang mendengar nama INDONESIA, orang-orang langsung terpaku dan terpesona.

Kalau kata si Bapak… jadi macan. Ayo kita jadi macan..kalau perlu trio macan *dangdutan….*..kalau perlu 200juta macan…

Ini negara kita, ini rumah kita…

*Dunia akan damai jika semua orang saling menghargai*

Tags

About The Author

Amiu Holic 9
Kapur Tulis

Amiu Holic

Blogger, Web Developer

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel

From Amiu Holic