Sunset At Youtefa 2

7 Jan 2017 01:26 555 Hits 0 Comments
Hari mendekati malam, tepat pukul 11:00. Kami masih asyik bercakap – cakap sambil sesekali  aku menatap kedua indah bola matanya, berkilau dalam balutan cahaya temaram lampu halogen.

Hari mendekati malam, tepat pukul 11:00. Kami masih asyik bercakap – cakap sambil sesekali  aku menatap kedua indah bola matanya, berkilau dalam balutan cahaya temaram lampu halogen. Aku melanjutkan perbincangan ringan kami, “ Apa yang akan Anda lakukan sekarang ? “ “ Saya bekerja di sebuah pusat medis di sini, rumah sakit Sint Lucas Andreas, “ Dimana keluarga Anda sekarang, karena sejak dari tadi saya tidak melihat siapa – siapa di sini selain Anda dan pembantu tadi ? “ Sambil mendesah Lisa bercerita, “ Dia meninggal dua tahun yang lalu, saya tinggal hanya dengan dia, sementara saudara dan ibu tinggal di lain kota yaitu Leiden “               “ Maafkan aku, “ dia hanya mengangguk kepalanya sedikit. Sekali lagi membunuh diam yang ada di antara kita. Hanya musik mengalun syahdu yang diputar dari ruang keluarga. Aku menghirup napas dalam - dalam. “ Jadi ... Anda tinggal di sini sendirian ? “ “ Ya ... karena ayah saya meninggal, “ Awal pertemanan kami terasa sedikit canggung, aku telah kehabisan cerita dan tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mencairkan suasana. Aku benar - benar merasa sangat berat dan sedikit khawatir bahwa sebenarnya aku telah jatuh cinta. Dia tidak mempertanyakan secara khusus tentang aku. Aku merasa sangat tidak nyaman. Dua detik berlalu, dia masih tetap diam seperti biasa, akhirnya aku pamit di samping malam telah turun.

Aku benar - benar ingin berbicara lagi dengan dia di lain waktu, dan mengatakan bahwa aku ingin dia menjadi kekasihku kelak. Tetapi bagaimana saya memberitahu semua ini padanya  sekarang atau nanti ? Bagaimana saya tahu bahwa cinta ini tidak akan bertepuk sebelah tangan ? Di sepanjang jalan utama menuju ke rumah, pikiranku dipenuhi oleh bayangan dia dan anganku untuk menghabiskan sisa hidup ini bersama – sama dia. Aku menatap deretan pohon jalanan  eukaliptus berwarna – warni seperti pelangi dari kaca jendela mobil, dimana aku bisa melihat dengan jelas lampu – lampu jalan kota dan tidak ada orang sama sekali, melainkan hanya diisi dengan kekosongan di malam hari.

Ketika daun – daun mulai berubah warna menjadi semakin indah. Saat suara serangga yang awalnya terdengar seperti sebuah paduan suara di gereja kecil yang ada di sebelah rumahku sudah tidak lagi terdengar. Ketika suhu udara dengan liar mendekati ke titik beku H2O. Itulah musim yang sebentar lagi menyelimuti setiap jengkal tanah di negeri seribu satu bunga ini.  Musim gugur adalah salah satu musim yang sangat disenangi oleh banyak orang, karena dimana – mana terdapat udara sejuk, badan terasa segar dan sehat setiap saat. Terik matahari tersedia banyak namun tidak perlu khawatir karena panasnya tidak begitu menyengat dan udara menjadi hangat. Seperti pada waktu musim semi, dua musim favorit yang selalu kami nanti.  

Daun - daun di sepanjang jalan raya kota dan taman – taman bunga mulai berguguran satu persatu memasuki awal musim gugur ini hingga meranggas sangat indah ke musim dingin dimulai. Ada satu fenomena unik yang selalu terjadi di saat seperti sekarang ini yaitu perubahan warna daun menjadi warna - warni cantik sungguh mempesona mata menyapu alam. Bayangkan jika Anda berdiri di dalamnya, tiba - tiba dedaunan dari pohon – pohon di sekitar Anda berubah warna, hijau tua di musim panas ke merah maroon, jingga atau kuning di musim gugur tentu akan membuat kepala Anda ringan untuk menikmatinya.

Bagaimana dedaunan itu berubah warna ? Daun pepohonan dan tanaman pada umumnya mengandung komponen tiga pigmen utama yakni : karoten, antosianin dan pigmen fotosintetik (klorofil), yang berfungsi bagus di dalam menangkap energi sinar matahari untuk selanjutnya membawa makanan ke seluruh tubuh tanaman. Sebagai pigmen dalam jumlah paling melimpah, klorofil adalah zat yang menyebabkan warna hijau bagi daun terutama pada musim semi atau musim panas. Zat kimia lain di dalam daun, auksin, mengontrol sel tertentu di masing - masing batang daun, dan disebut sebagai lapisan absisi. Ketika musim pertumbuhan, auksin mencegah lapisan terbentuk sempurna dan memblokir tabung - tabung internal kecil yang menjadi penghubung masing - masing daun ke bagian sistem sirkulasi pepohonan.

Pada musim gugur, hari - hari menjadi lebih dingin dan singkat sehingga bisa memicu terhentinya produksi auksin, di sini memungkinkan lapisan absisi tumbuh dan mencegah sirkulasi air, nutrien dan gula ke daun. Ketika proses ini sedang berlangsung, klorofil mengalami disintegrasi sangat cepat, sehingga menyebabkan karoten memunculkan warnanya seperti warna kuning daun maple, pohon yang mempunyai daun ringan (aspen), dan juga pada daun pohon birch. Hal lain adalah antosianin memberikan warna oranye dan merah untuk pohon maple, pohon sumacs dan pohon ek. Bila sinar matahari kurang, maka antosianin tidak begitu aktif bekerja secara kimiawi sehingga daun lebih berwarna oranye atau kuning dan memberi sedikit warna merah.

Hari minggu yang ceria.

Aku pagi – pagi berangkat ke toko bunga, membeli seikat rose berwarna pink, kemudian meluncur dengan perasaan ringan ke rumah Lisa. Hari ini kami berdua berencana akan berlibur ke pantai  Scheveningen.

Bulan April saat yang tepat untuk menikmati keharuman bunga tulip bermekaran di kota Den Haag. Begitu juga pemandangan menuju ke pantai Scheveningen, penuh dengan pesona bunga bermekaran. Di dalam perjalanan, kami berdua menyusun persiapan yang akan dilakukan nanti setiba di pantai, berjemur di bawah lembut sinar matahari dan berenang tentu saja sambil juga tak lupa kami akan mencicipi hidangan terlezat di beberapa restoran terletak di pinggir pantai. Kami berdua begitu bahagia, berharap apa yang kami jadwalkan akan berjalan mulus nantinya.

Tepat pukul 11:00 kami tiba di pelataran parkir hotel Kurhaus merupakan salah satu hotel besar dan termewah yang berdiri di kawasan pantai ini. Kami menyusuri jalan dan sempatkan untuk mampir di pertokoan sekeliling Dam Square, adalah merupakan town square di Den Haag. Ada beberapa suvenir menarik perhatian Lisa seperti piring hiasan dinding tembok berlukiskan kincir angin dan klompen yang menjadi ciri khas oleh – oleh negeri ini. Kami melanjutkan perjalanan liburan menarik ini ke pantai beberapa jam saja untuk bermain air di laut yang indah. Dan sesudahnya, kami mampir ke sebuah restoran yang khusus menyediakan hidangan khas Belanda, seperti stamppot, olliebollen, patat, stroopwafel dan fun poffertjes.

Pulangnya sekitar jam delapan 8 malam, sampai di kot Den Haag. Ternyata hujan cukup deras mengguyur kota, dan angin kencang mengerikan, walau suasana masih terang. Aku terpaksa menginap di apartemen Lisa karena badai besar sedang melanda kota. Dan Lisa pun tidak keberatan, dia sangat senang.

Meskipun tadi siang kami sempat mampir ke sebuah restoran untuk memesan beberapa menu hidangan khas Belanda, tetapi perut ini masih terasa lapar. Oleh karenanya, Lisa memasak sesuatu yang istimewa malam ini buat kami berdua lewatkan. Kami membuat steak daging sapi  saus mentega asam manis pedas dengan sayuran pelengkap kentang goreng, wortel serta brokoli setengah matang dan jus segar dari buah jeruk didampingi salad buah manis (ada red wine, stroberi dan pisang cavendish). Malam ini ditengah cuaca yang begitu buruk, hujan badai disertai halilintar menyalak galak, kami berdua justru melaluinya dengan acara makan malam penuh suasana romantis meski dengan menu ala kadarnya.  

Mencintai seorang gadis apalagi merupakan perasaan pertama yang dimiliki oleh seorang laki – laki adalah salah satu kenikmatan manusia di dalam mengisi sebuah kehidupan. Begitu yang dialami oleh Ryan Alexis dan Lisa Brianna Samuel. Ryan akhirnya menyatakan cintanya kepada gadis yang sering dia jumpai untuk makan siang di salah satu restoran langganan Ryan. Mereka sepakat untuk segera melangsungkan pernikahan dengan menelepon keluarga besar Lisa yang ada di kota Leiden dan keluarga calon mempelai laki – laki yang ada di Australia.

Untaian kasih dalam alunan tembang – tembang mutiara melantunkan lagu cita dan cinta. Hembuskan asa yang sudah lama terpendam di dalam tubuh dua insan yang sedang merencanakan untuk melangsungkan sebuah jalinan hubungan cinta yang serius. Seketika saja, setitik air kehidupan mulai mengguyur hati dimana sebatang pohon cinta telah tumbuh tunas – tunas kecil sebagai pertanda kehidupan abadi akan tumbuh.

Seperti sunset di Youtefa, rencana mereka berdua akan menghabiskan bulan madu dari sebuah pernikahan suci.      

 

Tags ilustrasi

About The Author

Nila 43
Pena

Nila

Suka membaca dan menulis

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel