Ketika Cinta Bicara (When Love Talks) Chapter 8

4 May 2016 15:22 6960 Hits 6 Comments
Suti bergegas menghubungi Kayla. Pusing di kepala kini muncul lagi. Dengan susah payah ia memencet tombol Hp-nya. Matanya mulai berkunang-kunang. Rasanya mau pingsan, tapi ia mencoba bertahan. Majikannya harus tahu peristiwa ini sekarang juga!

 

 

Baca sebelumnya

http://www.plimbi.com/article/164262/ketika-cinta-bicara-when-love-talks-chapter-7

 

Kayla benar-benar merasa gelisah. Siang tadi ia baru saja di telepon ibu gurunya Choky. Kayla diminta hadir di sekolahnya Choky, membahas tingkah aneh Choky yang belakangan ini semakin menjadi-jadi.

 

“Tuut, tuut…” Telepon di ruangan Kayla berbunyi.

“Yaa..?” Kayla menyahut. Sebelumnya tangannya memencet tombol handsfree teleponnya.

“Bu, ada telepon dari ibu Marpaung, wali kelasnya Choky. Ia mau bicara dengan ibu. Ibu mau terima?” Terdengar suara renyah Ninuk, seretaris Kayla. Seperti biasa, Ninuk memakai bando merah yang dipadupadankan dengan baju seragamnya. Tak lupa ada bunga warna pink di tepi bando yang dikenakannya.

Mmm.., gurunya Choky. Ada apa ya..? batin Kayla heran. Tak biasanya ia mendapat telepon dari guru wali kelasnya Choky. Mudah-mudahan Choky nggak bikin masalah di sekolah, harap Kayla.

“Oke Nuk. Sambungkan saja.” Kayla mengijinkan.

“Selamat pagi, dengan ibu Kayla Audrina?” Demikian terdengar suara seorang wanita dengan logat Bataknya yang khas menyapa Kayla dengan ramah.  

“Ya benar, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu, bu?” Kayla membalas tak kalah ramahnya. Ia sedang sibuk menandatangani berkas-berkas laporan yang baru saja dia terima dari Ninuk. Kini Ninuk sudah berdiri dihadapannya menunggu laporan tersebut selesai ditandatangani oleh  Kayla.

“Saya ibu Marpaung, guru wali kelasnya Choky. Ibu ada waktu sekarang? Saya mau bicara tentang Choky.”

“Ada apa dengan Choky, bu? Apa Choky bikin masalah?” tanya Kayla sambil terus membaca dan menanda-tangani berkas yang ada dihadapannya.

“Begitulah bu. Kali ini semakin parah kelihatannya. Sudah mulai mengganggu ketentraman teman-temannya…”

“Hahh?? Maksud bu?” Kayla terkejut, tapi sedikit geli mendengar ibu Marpaung bicara, terutama saat mengucapkan kata “ketentraman” dengan logat Bataknya yang kental.

“Iya, teman-temannya jadi terganggu. Kami pun jadi ikut terganggu. Ia mulai suka marah-marah sekarang, suka memukul kawan-kawannya, bahkan sering menangis sendirian. Apa ada masalah di rumah bu?” Ibu Marpaung langsung ke inti masalah. Raut mukanya yang persegi mulai menunjukkan raut muka yang serius.

Kayla spontan menghentikan tangannya menanda-tangani berkas laporan yang sebenarnya tinggal beberapa lembar lagi. Terpaksa Ninuk harus menunggu. Ia memberi tanda pada Ninuk agar segera keluar dari ruangannya. Ninuk pun menurut.

“Ng... setahu saya tidak ya bu. Ia tidak pernah marah-marah dan menangis di depan saya…, tetapi kalau bicara dan melamun sendirian akhir-akhir ini memang sering saya lihat…” Kayla mulai mengingat-ingat kelakuan anak angkatnya saat didekatnya. Ia tiba-tiba teringat ketika dua hari yang lalu pembantunya Suti yang selalu bersama dengan Choky menyampaikan keluhannya tentang Choky, kalau Choky mulai sering melamun, suka memukul dan suka berteriak kasar pada pembantunya. Namun tidak terpikir oleh Kayla jika sudah sampai segawat ini.

“Jadi maksud saya begini, saya mau mengundang ibu datang ke sekolah Choky besok pagi, membicarakan masalah Choky ini. Bisa ibu datang besok?”

“Oh, begitu ya bu, sebentar...” Kayla menghentikan lamunannya. Ia mengambil agenda kerjanya, lalu melihat jadwal kerjanya. Wah padat, sepertinya tidak bisa besok, gumam Kayla. Ia pun melihat hari berikutnya.

“Bagaimana kalau lusa, bu. Hari Kamis ini. Boleh?”

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa hari Kamis ya bu?” Ibu Marpaung setuju.

”Terima kasih ibu Kayla. Selamat siang!” ibu Marpaung mohon diri.

Sedetik kemudian pembicaraan mereka pun berakhir.

Kini Kayla yang kebingungan. Ia kehilangan konsentrasi bekerja. Ia jadi memikirkan tingkah aneh anak angkatnya itu. Apakah sampai separah itu? Choky koq tidak pernah memberitahukan apa-apa ya? Atau karena aku yang terlalu sibuk? Pertanyaaan demi pertanyaan bergulir. Kayla masih merasa tidak ada yang aneh pada diri Choky, karena Choky sendiri tidak pernah menunjukkan keanehannya di depan dirinya. Ia selalu senang dan bahagia saat berada di sisi Kayla.

Malam ini Kayla tidak dapat tidur tenang. Ia merasa amat sangat gelisah. Kayla baru saja menelepon Suti menanyakan keadaan Choky, namun hanya itu saja yang bisa ia lakukan saat ini. Ingin rasanya simsalabim!, langsung berada dekat Choky dan memeluknya sekarangjuga. Jika bisa, ia akan selalu menjaga Choky dan takkan lagi meninggalkan ia sendirian di sana.

Seketika Kayla diselimuti perasaan menyesal. Menyesal karena meninggalkan Choky sendirian, sementara ia tenggelam dengan kesibukannya yang tidak kenal waktu. Mungkinkah ini bentuk protes Choky terhadap dirinya yang meninggalkan Choky sendirian di luar kota, sehingga ia melampiaskan kekesalannya pada orang lain? Akh, seandainya aku bisa selalu bersama Choky, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya!, sejuta pertanyaan menggelayuti pikiran Kayla.

Perasaannya tiba-tiba merasa tak enak. Galau menyelimuti pikirannya. Ia takut terjadi apa-apa dengan diri Choky, tapi untuk saat ini ia tidak dapat berbuat apa-apa...

***

Tengah malam, pukul 23.17 WIB...

 

Tidak biasanya Choky berteriak-teriak sepanjang malam. Teriakannya seperti lolongan anjing hutan di tengah malam. Suti benar-benar tidak tahan mendengarnya. Ia kerepotan menangani Choky sendirian. Timbul dalam benaknya untuk memberitahukan saja hal ini pada Kayla, namun ia tak berani. Ia takut Kayla jadi panik dan ikut-ikutan gelisah seperti dirinya. Ia pun mencoba sekali lagi menenangkan Choky.

“Sudahlah Choky, nggak usah reseh begitu dong! Besok kan mama datang sih?!” Tampak Suti kerepotan mengganti baju Choky yang basah kuyub karena keringatan, sementara Choky meronta-ronta tidak ingin bajunya  diganti.

“Tak mau!! Aku tak mau ganti baju! Aku mau mama sekarang!! Choky bosan sendirian!!” Choky memukul tangan Suti keras.

“Adduuhh!!” Suti sampai meringis menahan sakit. Choky berlari meninggalkan Suti sambil kembali berteriak mengucapkan kalimat yang tidak jelas, “Wuaaakhh!!... Waaakkhh!!”. Ia berlari menuju kamar Kayla. Suti mengejar dari belakang.

Klik!!. Choky mengunci pintu kamar Kayla. Kini tidak ada seseorang pun yang bisa mengganggunya, bahkan Suti pun tidak. Di luar, Suti menggedor-gedor pintu kamar Kayla dengan keras, berharap Choky mau membukakan pintu.

Choky membanting dirinya di kasur empuk Kayla. Ia menutup telinganya dengan bantal, sambil berteriak mengusir  Suti  pergi ”Mbok pergi saja sana!” Ia masih mendengar suara Suti memanggil-manggil namanya samar-samar. Karena keletihan, Suti pun memutuskan meninggalkan Choky sendirian.

Akhirnya Choky tidak mendengar lagi suara Suti. Ia melepaskan bantal yang ia pakai untuk menutupi telinganya, lalu bantal itu didekapnya.

 

Perasaan gelisahnya mulai timbul lagi. Ia merasakan ada sesuatu yang akan terjadi pada malam ini, tetapi ia tidak dapat menjelaskannya. Ingin rasanya ia menjelaskan perasaan ini kepada orang lain, tapi pasti tidak ada satu pun yang bisa mengerti, karena ia pasti akan di cap “anak aneh”. Lain halnya jika sudah berada dekat Kayla. Ia langsung merasa nyaman dan senang. Tapi karena terpisah jarak, mamanya tidak bisa setiap hari berada di dekatnya, maka ia tidak bisa setiap hari merasa tenang.

Choky membuka jendela kamar. Angin dingin yang menusuk tulang memasuki ruangan kamar dan menyibakkan tirai jendela kamar dengan lembut. Choky membiarkan rambutnya tergerai. Beberapa detik kemudian, ia merebahkan dirinya kembali ke tempat tidur. Ditemani Angry Birds, boneka burung berwarna merah kesayangannya pemberian dari Kayla saat ia berulang tahun ke-4, ia pun tertidur lelap.

***

 

Suti terbangun. Ia bangun dari lantai ruang tengah dekat kamar Kayla. Ia heran. Kenapa aku tidur di lantai ya?. Ia mencoba bangkit berdiri, lalu teringat Choky.

Suti berjalan menuju ke kamar Kayla dan bermaksud kembali menggedor pintu kamar, ketika saat itu juga ia mulai sempoyongan. Aduh, kepalaku kok sakit ya?, batin Suti. Ia memegang bagian kepalanya yang tiba-tiba terasa perih dan sakit. Betapa terkejutnya Suti begitu ia melihat darah segar di telapak tangannya yang berasal dari belakang kepalanya.

Astafirulloh!! Ya Alloh!! Ada apa ini??” Suti benar-benar terperanjat. Ia mengira dirinya sudah mati. ”Aku wes matek(17) !!, Aku wes matek!!” teriak Suti panik sambil berlari berputar-putar tak menentu mengelilingi meja sofa dan ruang tengah rumah Kayla seperti anak kecil. Mendadak kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Ia pun berhenti dan duduk di sofa. Nafasnya terengah-engah karena kecapekan. Rasanya paru-parunya mau keluar dari mulutnya. Begitu takutnya Suti sampai tidak sadar kalau dirinya yang sudah tua dan keriput sebenarnya tidak mungkin lagi untuk berlari berputar-putar seperti itu.

(17) wes matek : sudah mati

Ia mengatur nafasnya. Setelah berhasil meyakinkan dirinya kalau ia masih hidup dan pusingnya berangsur-angsur hilang, ia bangkit berdiri dan perlahan berjalan menuju ke kamar Kayla. Ia masih ingin menengok keadaan majikan kecilnya itu. Suti seperti tidak peduli dengan keadaan dirinya. Ia pun mengetuk pintu kamar Kayla pelan.

”Choky. Ini mbok Suti. Ganti baju dulu yok, kamu kan keringatan. Nanti habis ganti baju kamu boleh tidur lagi deh...” Suti membujuk Choky tapi tak ada jawaban.

”Ayo dong, Chok. Kalau nggak nanti kamu  masuk angin, loh...” Suti  masih  mencoba merayu Choky.  Suasana tetap hening.  Suti jadi curiga.  Ia membuka pintu kamar Kayla. Astaga!!,  alangkah terkejutnya ia ketika dengan mudahnya dapat membuka pintu kamar tersebut padahal sebelumnya ia ingat Choky mengunci pintu itu dari dalam. Lebih terkejut lagi ketika ia melihat bekas congkelan di gagang pintu tersebut. Darahnya berdesir. Apa ada perampok??, pikirnya tidak yakin. 

Suti memberanikan diri membuka pintu lebar-lebar. Ia celingak-celinguk melihat ke kiri dan kanan, takut kalau-kalau memang ada perampok yang bersembunyi di situ dan berniat menyerang dirinya. Setelah yakin dirinya aman, ia menuju ke tempat tidur melihat keadaan Choky.

Suasana kamar Kayla gelap. Suti pun mem-beranikan diri menghidupkan lampu. Ia melihat Choky sedang tertidur pulas ditutupi selimut tebal. Suti bernafas lega. Alhamdulilah, tidak ada apa-apa. Rupanya ia sedang tidur, batin Suti. Tetapi meskipun lega, Suti masih merasa heran, jadi siapa yang congkel pintu kamar ini? Dan kenapa juga kepalaku berdarah? Apa aku terpeleset?. Suti bingung.

”Choky...” Suti duduk di samping tempat tidur Kayla. Ia menggerak-gerakkan badan Choky agar beranjak dari tidurnya, namun tidak ada respon. Ia mengulang sekali lagi, juga nihil. Suti bertambah curiga, tanpa dikomando ia langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Choky. Jantungnya seperti mau copot begitu melihat bukan Choky yang ada dibalik selimut itu, melainkan bantal-bantal yang sudah disusun rapi.

”Choky!! Dimana kamu!!” Suti berteriak keras agar Choky bisa mendengarnya. Ia menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya Kayla. ”BRAAKK!!," pintu dibanting keras. Tidak ada Choky di situ. Suti kembali panik. Ia ke luar kamar dan menuju dapur serta ruangan atas sambil berteriak memanggil Choky. Tetap tak ada sahutan. Kini ia yakin bahwa Choky sudah tidak berada di rumah.

Suti menuju ke halaman rumah. Betapa terkejutnya ia saat sedang menuju ke ruang tamu, Suti melihat pintu ruang tamu telah terbuka secara paksa. Terlihat bekas congkelan di gagang pintu tersebut. Darahnya kembali berdesir. Padahal ia yakin tadi sudah mengunci pintu. Cemas menyelimuti pikirannya. Ia kuatir jika benar-benar terjadi perampokan.

Suti bergegas menghubungi Kayla. Pusing di kepala kini muncul lagi. Dengan susah payah ia memencet tombol Hp-nya. Matanya mulai berkunang-kunang. Rasanya mau pingsan, tapi ia mencoba bertahan. Majikannya harus tahu peristiwa ini sekarang juga!

***

 

Beberapa hari ini Kayla tidak bisa lagi tertidur pulas. Kesibukannya di kantor saat ini benar-benar menyita waktunya. Belum lagi ia harus dihadapkan dengan tingkah laku Choky yang belakangan ini sering membuat ulah di sekolah maupun di rumah. Sebentar-sebentar ia terbangun. Ia bermaksud untuk tidur kembali ketika HP-nya berdering,

”Halo, mbak Kayla...” terdengar suara Suti terbata-bata.

”Ya, kenapa Ti telepon pagi-pagi?” Kayla menjawab dengan enggan. Ia masih mengantuk, suaranya terdengar berat. Saat itu jam menunjukkan pukul 01.42 subuh. Ia masih belum punya firasat apa-apa.

”Mbaakk..., huhuhuhu...” Suti tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Ia menangis terisak-isak.

”Kamu kenapa...? nangis ya?” Kayla masih belum ngeh.

”Huhuhu...” Suti masih menangis.

”Lho, kenapa kamu? Koq nangis?” Kayla pun tersadar. ”Kamu... habis berantem lagi ya, dipukuli Choky ya?” tebak Kayla. Ia heran tapi masih belum  menyadari  keadaan  yang  sebenarnya.

”Bu-bukan mbak... huhuhu... Choky...Choky ti...” Suti tambah menangis sejadi-jadinya. Ngomongnya jadi terputus-putus.

”Choky kenapa Ti? Aduuh, kamu kalau ngomong jangan sambil nangis gitu dong! Berhenti dulu lah..., kenapa sih?” Kayla mulai sewot. Sekarang ia sudah tidak ngantuk lagi.

”Huhuhu... Choky mbak... Choky ti.. tidak ada di rumah, mbak...!!”   

”Maksud kamu??” Kayla berteriak kaget. Ia mendongakkan kepalanya.

”Tadi ... dia tidur di kamar... setelah itu... sudah tidak ada di rumah..., mbak...” suara Suti parau.

”Tidak ada di rumah gimana? Kamu jangan macam-macam ya! Coba kamu tenang dulu...” emosi Kayla mulai naik. Firasatnya mulai tidak enak.

Suti menarik nafasnya. Ia duduk di sofa. Keringat dingin mulai mengucur deras. Setelah menarik nafas beberapa kali, dirinya mulai tenang. Ia berhenti menangis.

”Sekarang ceritakan lagi dari awal...” Kayla berusaha menahan emosinya. Perasaannya tidak menentu, seperti di aduk-aduk.

”Saya juga ndak ngerti mbak Kayla. Tahu-tahu saya sudah pingsan di lantai, trus... kepala saya berdarah, trus... pintu kamar mbak dicongkel, trus... pintu depan juga di congkel, trus... Chokynya nggak ada, padahal tadinya dia ada di kamar mbak...” Suti berhasil menceritakan kejadian yang sebenarnya tanpa menangis meskipun suaranya masih parau terdengar.

”APAA??!!” Giliran Kayla yang terperanjat. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia bangkit dari tempat tidurnya.

”Ka-mu serius kan, nggak main-main kan?” Kayla meragu. Ia masih tidak percaya dengan omongan Suti. Choky tidak ada di rumah? Kepala Suti berdarah? Apa aku salah dengar ya?, sesak menyelimuti perasaannya. Percaya tidak percaya  Kayla mendengar berita ini dari Suti.

”Demi Alloh, mbak Kayla. Untuk apa saya main-main. Wong kepala saya saja berdarah koq mbak, mosok saya main-main...” Suti meyakinkan Kayla.

”Kok bisa sih?” Kayla bingung. Ia menarik nafasnya berusaha untuk tenang, ”...tapi kamu sendiri nggak apa-apa kan?” Ia menanyakan keadaan pembantunya. Khawatir juga jika terjadi apa-apa dengan Suti.

”Saya nggak apa-apa mbak. Cuma pusing di bagian tengkuk saya yang dipukul.”

”Itu bahaya Suti, kamu bisa saja geger otak. Ya sudah, kamu hubungi saja Dewi, minta dia malam ini temani kamu tidur di rumah. Jangan lupa minta dia periksa luka kamu, ya...” 

”Y-ya mbak.”

”Terus kamu hubungi polisi sekarang. Ceritakan yang sebenarnya. Segera ya...!”

”Ya...”

By the way, kamu sudah kejar Choky ke luar rumah, tanya ke tetangga kita, mungkin ada yang melihat kejadian yang sebenarnya?”

”Belum mbak, apa mungkin Choky diculik, mbak?”

Kini Kayla tidak berkutik. Ia tidak bisa bicara apa-apa lagi. Jika dari keterangan Suti, sepertinya Choky memang tidak kabur dari rumah, melainkan di culik. Tapi apa iya? Rasanya tidak percaya juga kalau Choky diculik.

”Semoga saja nggak. Yang penting kamu tidak kenapa-kenapa. Tapi kalau ada apa-apa segera hubungi saya, ya.” saran Kayla.

”Baik mbak Kayla.”

”Nanti saya hubungi kamu lagi.”

”Klik!”

Giliran Kayla sekarang yang panik. Apa mungkin Choky kabur dari rumah?, atau ada perampok yang memukul kepala Suti hingga pingsan?, atau mungkin ia..., Tanpa membuang waktu lagi, segera ia mendatangi dan mengetuk pintu kamar mamanya dengan keras.

”Mamii!!, mami, buka pintunya!! Aduhh mamiii!!, si Choky nggak ada di rumah...!!” Kayla berteriak dan menggedor pintu kamar orang tuanya dengan membabi buta. Di dalam, orang tua Kayla terbangun karena kaget. Sudah gila si Kayla rupanya? Pagi-pagi buta begini membangunkan orang? Mamanya Kayla merepet, sementara Papanya pun uring-uringan.

Pintu kamar terbuka.

”Apa sih nak? Pagi-pagi sudah kesurupan!! Kenapa pulak dengan si Choky??” Mama membentak Kayla sebel.

”Choky nggak ada di rumah!! Tadi Suti baru saja telepon Kayla...!”

”HAHH??! Kok bisa? Sudah cek kamar atas? Si Suti itu kadang suka pelupa. Maklumlah sudah tua.” Mamanya Kayla tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

”Sudaahhh mamiii!! Nggak mungkin Suti lupa. Apa mungkin Choky kabur dari rumah, mi? dia kan masih kecil?”

”Aakhh!! Apa mungkin dia bisa mikir sampai ke situ, Kay??”

”Jangan-jangan dia di culik mi!! Feeling Kayla bilang sepertinya memang begitu. Aduuhh!!, masa’ dia ikut-ikutan diculik sih?” Kayla bertambah panik. Ia menarik-narik pergelangan tangan mamanya.

Sementara itu papa Kayla baru saja beringsut dari tempat tidurnya dan menuju ke depan pintu, begitu mendengar percakapan heboh anak dengan istrinya.

”Kamu tenang dulu Kayla!! Mami jadi ikut-ikutan panik deh!” Mama menarik tangannya dan gantian memegang erat kedua tangan Kayla.

”Jadi apa yang harus Kayla lakukan mi? Apa Kayla harus ke sana subuh-subuh begini?” Kayla bingung.

”Sekarang sudah jam dua pagi Kayla. Aduuhh... gimana dong, pi?” Mama ikut-ikutan bingung. Ia bertanya ke arah suaminya begitu mengetahui suaminya sudah berada di sampingnya.

”Kamu ke sana sekarang juga!. Hubungi Ringgo dan Nina!” saran Papi.

***

 

Choky terbangun setengah tersadar. Ia berteriak memanggil Suti, tapi tak terdengar jawaban. Karena masih mengantuk berat, ia memutuskan untuk tidur lagi.

Samar-samar Choky mendengar sesuatu. Suara langkah kaki yang berjalan mendekat. Ia mencoba membuka kelopak matanya, namun terasa berat. Rasanya seperti ada yang menahan. Hidungnya mencium sesuatu yang belum pernah dia cium sebelumnya. Semakin lama baunya semakin tajam dan menyengat. Badannya mulai terasa panas. Ada hawa lain yang tak dikenal masuk ke kamarnya.

Mata Choky masih tertutup. Ia tidur telentang. Seperti bermimpi, Choky melihat bayangan hitam yang berjalan mendekati dirinya. Ia mencoba bangun, tapi badannya seperti dipaku. Ia  mencoba  berteriak,  tapi  suaranya  tidak  keluar. 

Dengan sisa-sisa tenaganya, ia membuka matanya sekuat tenaga. Saat ia berhasil membuka matanya, saat itulah ia melihat sosok bayangan yang menutupi dan membekap wajahnya dengan bantal. Ia meronta-ronta dan berteriak minta tolong, tapi tak ada yang bisa menolong, Choky pun tak berdaya…

 

 

BERSAMBUNG

About The Author

Arya Janson Medianta 41
Pena

Arya Janson Medianta

Maju terus, pantang mundur

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel