Ketika Cinta Bicara (When Love Talks) Chapter 4

1 Apr 2016 09:55 5653 Hits 4 Comments
Sedikit demi sedikit misteri mulai terkuak. Ringgo dan Nina akhirnya tahu kalau Kayla diculik ternyata ada hubungannya dengan anak angkat Kayla, Choki. Rumitnya, Kayla ngotot tidak mau menyerahkan Choky. Ia tetap mempertahankan Choky. Penculik pun minta uang tebusan, sebagai gantinya.

 

Selasa, pukul 10.30 di kantor polisi…

“Aduh baaang, sudah lapar nih. Kita kan dari semalam belum makan…Makan dulu yuuuk..!” Nina menarik tangan Ringgo untuk sarapan.

“Nin, kamu duluan deh, abang tidak selera makan. Lagian kita kan masih menunggu hasil laporan dari polisi. Nanti abang menyusul...” Belum selesai Ringgo bicara, seorang polisi buncit datang menghampiri mereka.

“Selamat pagi, pak. Bapak yang namanya Ringgo kan?” sahut polisi itu ramah.

“Ya, benar pak.” Ringgo menoleh.

“Mari ikut ke ruangan saya.”

“Benar kan, abang bilang. Ya sudah, kamu tunggu saja di sini…” Ringgo mengarahkan telunjuknya ke hidung Nina.

Nina mengangguk lemas.  “What a long day…

 

Satu jam telah berlalu. Siang begitu terik menyengat. Tidak seperti biasanya. Ringgo dan Nina baru saja keluar dari kantor polisi. Mereka berjalan lunglai. Ringgo menggerakkan kakinya dengan malas. Sepertinya waktu berjalan begitu lambat.

“Jadi kita harus menunggu lagi ya, bang…?” Nina memecah kesunyian.

“Ya, begitulah. Mereka harus mengumpulkan bukti-bukti dulu. Soalnya berkas kita belum lengkap. Lagipula, kalau masih belum 1 x 24 jam, belum bisa dibilang hilang atau diculik, Nin.”

Nina mengangguk bloon.

“Ok, deh. Jangan lupa kamu bawa dulu mobil Kayla ke rumahnya, ya. Jangan mampir lagi ke mall. Nanti giliran kamu yang diculik, hehehe!!” Ringgo tertawa nakal. Nina mendengus.

“Mereka mana mungkin menculik ekke, bang. Soalnya ekke punya banyak permintaan. Mereka tak akan sanggup memenuhinya…!” Nina tersenyum kecut sambil mengipas-kipaskan rambutnya menahan panas matahari yang menyengat.

“Hahaha…!!!, macam betul aja kamu…!” Ringgo tertawa keras, badannya sampai berguncang-guncang.

Mereka pun segera menyusun rencana selanjutnya.

 

***

 

Siang semakin terik. Rasanya menusuk tulang. Sebuah mobil angkutan sekolah baru saja mengantar pulang seorang bocah kecil ke sebuah rumah besar bercorak minimalis dekat pinggir jalan. Bocah itu tak lain adalah Choky. Tampak Choky sedang dipapah turun oleh kenek angkutan sekolah tersebut.

“Tin, tin…!” Terdengar bunyi klakson.

“Sebentaar…!!” Seorang perempuan setengah baya tampak keluar dengan tergesa-gesa. Setelah membukakan pagar depan rumah, Choky berjalan masuk dengan gontai.

“Mbok Suti, Mama Kayla mana ya? Koq belum telepon dari semalam?”

“Sabar ya, bang. Mama kamu pasti telepon. Kamu makan dulu ya…” Mbok Suti memegang tangan Choky berjalan menuju ke dalam rumah.

Sepuluh menit kemudian, “Mbok, mama nggak ada telepon?” kembali Choky bertanya. Ia duduk di kursi ruang tamu dengan malasnya.

“Belum. Mari mbok buka sepatu kamu dulu…” Mbok Suti menjawab dengan santai sambil membuka sepatu Choky. Belum selesai membukakan sepatu Choky, terdengar suara telepon rumah berbunyi.

“Akuu…akuu…!!” Choky spontan berlari menuju ke ruang tengah dengan kaki kiri yang masih memakai sepatu yang belum sempat dibuka. Ia berharap yang meneleponnya adalah Kayla.

“Halloo…”

“Hallo juga, anak manis. Habis pulang sekolah ya? Sudah makan belum?” terdengar suara centil seorang wanita. 

“Ini mama ya? Koq mama semalam nggak telepon?” Choky belum menyadari jika yang menelepon bukan Kayla.

“Ini tante Nina, sayang… masa’ kamu nggak tahu sih?” Nina tersenyum mendengar kepolosan Choky.

“Memangnya kenapa, mama kamu belum telepon ya?” Nina pura-pura tidak tahu.

 “Tante Ninin… tante Ninin…, tante sama mama ya?”

Mendengar sebutan tante Ninin, wajah Nina langsung merah menahan sebal. Nina  paling benci dengan sebutan itu. Andai Choky bisa melihat wajah Nina yang saat ini seperti kepiting rebus, mungkin ia tidak akan berani lagi memanggil Nina dengan sebutan tadi.

“Eeehhh.., ini tante Nina bukan tante Ninin. Ngomong jorok kamu, ya. Ng…, nanti sore tante ke sana ya. Mau kan?” Nina menahan marah dengan terpaksa.

“Sama mama?”

Nina terdiam sejenak.

“Ng, enggak sih. Sama om Ringgo. Gak papa kan?”

“Koq, nggak sama mama? Mama kemana sih?” Choky protes.

Aduuhh, ini anak kecil-kecil sudah mentiko(3)gimana ngomongnya ya? Nina berbicara dalam hati sambil menahan kesal.

(3)  mentiko : bertingkah

“Ngg, justru itu. Sebenarnya mama kamu sedang ajak kamu main petak umpet. Kamu yang cari mama kamu sembunyi dimana. Kamu mau, kan?” Nina tak bisa menahan bibirnya berbohong. Semua terjadi begitu cepat. Ia pun menggigit bibirnya. Aduuuh, kok jadi ngawur begini?

“Mauu…mauu… asyiikk, kita carinya kemana Tan?” Choky antusias menjawab. Terpancar wajah senang di wajahnya. Nina meringis.

“Rahasia dong. Nanti tante kasih tahu kalau sudah disana, ya” Nina melanjutkan dosanya.

“Horreee…!!!” Teriakan senang terdengar membahana. Nina pun menutup handphonenya.

“Aahh, kasihan anak itu.” Nina menggumam.

***

 

Saat ini Choky sudah berada satu mobil dengan Ringgo dan Nina. Choky duduk bersandar di kursi depan. Mereka mengendarai mobil Kayla.

Raut wajah Choky tampak begitu bersemangat. Sepanjang perjalanan Choky mengoceh : “Asyik ketemu mama!, Asyik ketemu mama!” Ia merasa yakin kalau ia akan bertemu dengan mama angkatnya malam ini.

Sementara itu Nina justru begitu gelisah. Sebentar-sebentar ia menyilangkan kakinya. Nina sedang berpikir keras. Ia sedang menyiapkan berbagai jawaban dari sejumlah pertanyaan yang akan dilontarkan si bocah ajaib ini. Ringgo merasakan kegelisahan Nina. Dalam perjalanan menjemput Choky, Nina sudah menceritakan semuanya.

 “Tante Ninin… tante Ninin…” Choky memecah kesunyian, ia menengok ke belakang. Nina melotot. Choky pun ketakutan. Jika situasinya diibaratkan seperti gambar di komik-komik Jepang, tubuh Choky kisut dan mengecil, sementara kepala Nina membesar sambil berteriak memaki-maki Choky.

“Ada apa sayaang…??” suara Nina mendadak halus, seperti dilembut-lembutkan sambil berusaha menahan sebal. Choky diam terpaku, tidak bisa bicara. Sementara Ringgo dengan santainya menyetir mobil tunangannya itu.

“Sebentar lagi kamu ketemu mama kamu ya. Tapi sebelumnya kita makan malam dulu. Gimana?” lanjut Nina masih dengan suara yang dilembut-lembutkan.

“I…iya.”

Suasana pun hening beberapa lama, tanpa suara. 

“Kita makan di sini saja, Nin?” Ringgo memecah kesunyian dengan bertanya ke arah Nina. Ia menunjuk ke sebuah restoran di pinggir jalan. 

“Oke deh. Di situ saja.”

“Gak mau! Gak mau! Choky mau ketemu mama!!” Mendadak Choky menjerit. Ringgo dan Nina terkejut.

“Iya, nanti kita ketemu mama. Tapi makan dulu ya?” Nina mengusap-usap kepala Choky sambil berharap kapan ia bisa menjitak ubun-ubun kepala si anak mengkek(4)  ini.

(4) mengkek = manja

“Gak mau! Pokoknya Choky mau ketemu mama, sekarang!!” Choky mengancam.

 “Bletaakkk!!!”

“Whuuuaaaa!!!”

“Nin, koq dijitak sih?”

“Habis, sebell!!”

“Jangan dijitak, dong!”

“Whuuaaa…!! Whuu…uhuk…uhuk..!!”

“Tuh, kan batuk.  Makanya  jangan  nakal” Nina mengusap air mata Choky dengan sapu tangannya. Sambil menahan tangis, Choky akhirnya terdiam. Air mata masih mengalir di pipinya.

Tak berapa lama, mereka pun turun dari mobil. Tampak Ringgo menggendong Choky, sementara Nina berjalan di samping mereka menuju restoran cepat saji yang dimaksud.

So, what next ?” Nina menoleh ke arah Ringgo.

“Kita makan saja dulu, baru kita pikirkan selanjutnya.” Ringgo menjawab santai.

Setelah makan dan main sepuasnya, Choky tidak teringat lagi dengan keinginannya bertemu dengan Kayla. Choky tampak sibuk bermain bola-bola sambil menjatuhkan dirinya ke dalam tempat yang berisi bola-bola mainan tersebut. Walaupun tidak mengenal satu sama lain, Choky tampak  akrab dengan anak-anak sebayanya yang bermain di situ. Yeah, begitulah anak-anak, hidupnya tidak pernah merasa susah. Bagi mereka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Kesempatan ini dimanfaatkan Ringgo dan Nina menyusun kata-kata yang tepat untuk dijelaskan pada Choky. Berbagai macam alasan mereka susun, mulai dari Kayla pergi shopping ke luar negeri selama beberapa hari (Yup! Benar, itu memang ide dari Nina) sampai pergi ke luar kota karena urusan kerja. Akhirnya mereka sampai pada satu kesimpulan : Kayla pergi mendadak ke luar kota karena urusan kerja selama sebulan.

Sedang asyik mereka mengamati tingkah polah Choky yang lucu dan menggemaskan itu, ponsel pintar Ringgo berbunyi.

“Hallo?”

“Bang Ringgo…? Bang, ini Kayla bang..!!”

Ringgo terkesiap. Layaknya orang yang beku kedinginan karena berada di suhu 0 derajat celcius, wajah Ringgo langsung pucat.

“K-Kayla…? Kamu di mana…?” Ringgo menjawab tak percaya. Nina yang mendengar Ringgo menyebut nama Kayla menjerit tertahan. Belum sampai mendengar Kayla menjawab, tiba-tiba terdengar suara laki-laki bersuara berat berbicara.

“Kau yang namanya Ringgo?”

“Ya, siapa ini?”

“Tak usah banyak tanya. Ikuti saja kemauan kami!” terdengar suara bentakan. Ringgo tak mau kalah, ia berdiri dan balas membentak.

“Siapa kau?!!”

“Tak perlu tahu siapa aku. Nanti kau tahu sendiri. Atau kau mau pacarmu ini tinggal nama?”

Gertakan itu tidak serta merta menciutkan hati Ringgo, sampai akhirnya ia mendengar jeritan Kayla. 

“Apa mau kalian??”

“Hahaha!!, hebat juga kau ya, menantang kami. Ok, ini mau kami. Kami mau uang kami kembali. Paham ??”

Ringgo semakin bingung, mulutnya kering tercekat menahan heran. Air ludahnya seperti berhenti berproduksi. Ia tak bisa berkata-kata untuk sesaat.

“U…uang ?? Apa maksud kalian?”

Tanpa berpikir panjang sang penelepon misterius memberikan ponselnya kepada Kayla sambil tangannya tetap memegang ponsel tersebut. Saat ini Kayla dalam keadaan duduk dengan kedua tangannya terikat erat.

“Kau beritahukan sama pacarmu itu kejadian yang sebenarnya. Cepaatt!!” Ia berteriak ke arah Kayla.

“I…ini tentang Choky, bang. Abang ingat kan aku pernah cerita tentang masa lalu Choky?”

“Choky?” Ringgo berpikir sejenak.

“Yang mana? waktu kamu bawa Choky ke rumah sakit karena mencret?” Ringgo meraba-raba.

“Iisshh, bukan itu, tentang papanya Choky yang terlibat utang lalu berniat menjual Choky. Abang masih ingat kan?” Kayla berbisik.

“Ohh, yang itu… tapi bukannya sudah selesai urusannya?”

“Ya, tapi papanya terlibat utang lagi dan kali ini tidak mampu membayarnya.”

“Jadi, apa urusannya dengan kamu, Kay?”

“Mereka minta Choky jadi tebusannya!”

Belum selesai Kayla bicara, sang penelepon misterius yang tak lain adalah Tigor menarik tangannya dari telinga Kayla sambil mengumpat.

“AAAHHH...!! Lama kali pun kalian!!” Kini ponsel itu sudah bertengger di telinga Tigor.

“Naahh…, sudah mengerti sekarang kan. Bagaimana..., bisa kami dapatkan uangnya atau anak itu saja kau serahkan pada kami. Gampang kan? HAHAHAHA!!” Tigor tertawa memekakkan telinga. Logat khas Bataknya terdengar jelas.

“Jadi, mau kalian apa?” Ringgo menggertak.

“Ehh, bodoh kali pun kau! Sudah kubilang aku mau uangku kembali! Gak jelas juga? Mesti berapa kali kubilang…”

“Oke, oke… Jadi berapa uangnya?”

“Hahaha…!!, begitu dong. To the point. Aku suka yang langsung-langsung saja. HAHAHAHA…!!” Tigor tertawa keras yang dikuti dengan serentak oleh anak buahnya yang juga ikut-ikutan tertawa "HAHAHAHA...!!".

“DIAAAMMM!!!!” Tigor menoleh dan membentak anak buahnya. Mereka pun terdiam. Si gendut yang wajahnya tidak jauh beda dengan wajah kera menggigit bibirnya menahan tawa.

“BAAHH!! Nyambung pula’ kalian…!!” Tigor masih memarahi anak buahnya yang rata-rata punya penyakit latah itu.

“Dua ratus juta saja…” Tigor bicara asal.

“APAAA?!! Dua ratus juta…???” Giliran Ringgo yang berteriak kaget. Nina ikut-ikutan kaget. Spontan Nina menutup telinga Choky yang saat ini sudah berada dipangkuannya.

“Jangan kau teriak-teriak sama aku. Aku nggak pekak(5), tauk!! Kenapa sih semua orang senang teriak-teriak?” Tigor protes tanpa menyadari kalau ia sendiri sedang berteriak.

(5) pekak : tuli

“Yang benar saja lah, bang. Darimana kami bisa dapatkan uang sebanyak itu?” Ringgo balik protes.

“Itu bukan urusanku. Aku kasih waktu 1x24 jam mulai malam ini. Dan ingat, jangan kau libatkan polisi. Atau nyawa pacarmu yang cantik ini akan jadi taruhannya.” Klik!. Tigor menutup Hp-nya.

“Halo…, halo…??” Ringgo belum menyadari kalau Tigor sudah menutup Hp-nya.

“Sial!!” Ringgo memaki.

Suasana terasa sangat panas bagi Ringgo. Keringat mengucur deras. Ia bingung tidak tahu harus berbuat apa.

“Bang, kita pulang aja ya? sudah malam…” Nina berusaha mendinginkan suasana. Ia membelai pundak Ringgo yang basah kuyub karena mandi keringat.

“Biar aku saja yang nyetir.” Nina menyodorkan tangannya meminta kunci mobil. Tak lama mereka pun meninggalkan restoran itu. 

***

 

Tigor tersenyum puas. Setelah menutup pembicaraannya dengan Ringgo, ia menatap Kayla sambil tersenyum lebar. Kayla balas menatap dengan pandangan sinis. Tak lama seorang laki-laki masuk menemui mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia datang mendekat.

Kayla mengenali orang tersebut. Dialah ayah Ucok atau Choky. Dia juga yang menghalangi anak buah Tigor memperkosa Kayla. Pantas Kayla mengenali suaranya. Ayah Ucok tersenyum ke arah Kayla lalu menarik tangan Tigor dan mengajaknya berbicara ke ruangan yang lain. Tigor menurut. Melihat situasi itu, emosi Kayla meletup.

“Kalian tidak akan lolos!” Kayla menghardik. “Kalian pasti tertangkap!!”

Tigor tidak menjawab. Ia lalu mendekati Kayla, tangannya perlahan membelai wajah Kayla dengan lembut. Sedetik kemudian Tigor menampar wajah Kayla dengan keras.

“PLAAKKK!!” Seketika darah mengalir dari hidung Kayla. Kayla meringis.

“Jangan pancing aku menggunakan kekerasan. Menyesal kau nanti!” Tigor mengusap darah Kayla dengan jempolnya, dan setelah itu berjalan menjauhi Kayla. Kayla berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.

“Limbong! Kau jaga dia!” Tigor menyuruh anak buahnya yang bernama Limbong yang ternyata si gendut berwajah jelek kayak monyet untuk bertugas menjaga Kayla.

"Aku takkan serahkan Choky ke tangan kalian!! Tak kann!!" Kayla menjerit histeris. Tigor memberhentikan langkahnya tanpa membalikkan badan. Lima detik kemudian ia melanjutkan langkahnya tanpa peduli jeritan Kayla. Ia pun meninggalkan Kayla keluar ruangan disusul oleh ayah Ucok dan beberapa anak buahnya.

Sekarang Kayla benar-benar yakin bahwa dugaannya benar. Bahwa Ayahnya Choky jelas terlibat dalam penculikan ini. Sekarang mereka pasti sedang menyusun strategi untuk besok, pikir Kayla.

Terbersit keraguan dalam dirinya, akankah bang Ringgo atau siapapun bisa menyelamatkan dia keluar dari sini?. Entahlah.

***

 

Dalam perjalanan pulang, Ringgo menjelaskan semuanya pada Nina, “Darimana kita mendapatkan uang sebanyak itu, bang?” tanya Nina.

Ringgo terdiam tak menjawab. Sedetik kemudian Hp Nina berbunyi. Sebuah SMS masuk dari mamanya Kayla.

“Bagaimana menjelaskannya sama tante, ya?” Nina bertanya sendiri sambil membacakan pesan itu agar didengar juga oleh Ringgo.

 “Tak mungkin kita menjelaskannya terus terang, bang. Aku tahu mamanya Kayla. Ia pasti histeris.” Nina melirik Ringgo dengan harapan Ringgo menjawab komentarnya.

Ringgo tetap membisu. Ia masih gundah. Nina pun maklum. Suasana begitu hening, sampai akhirnya Ringgo membuka suara, “Sepertinya tidak ada jalan lain, Nin. Kita harus bicara terus terang,” jawab Ringgo dengan tatapan kosong ke depan sambil tangannya memegang smartphonenya hendak menelepon calon mertuanya.

Nina mengangguk lemah. Lewat kaca spion, Nina melihat Choky yang lelap tertidur di jok belakang mobil. Choky sama sekali belum tahu jika mama angkatnya dalam bahaya. Ia hanya merasakan bahwa malam ini malam yang indah baginya, bisa bermain sampai puas. Dalam tidurnya, ia bermimpi sedang berlari mengejar mamanya bermain petak umpet, sementara tante Nina dan om Ringgo mengejar dari belakang. Tak henti-hentinya ia berlari sambil tertawa. Baginya hidup ini menyenangkan.

***

 

Rabu, pukul 03.00 pagi…

Ringgo tidak bisa tidur. Ia begitu gelisah. Sebentar-sebentar ia membalikkan badannya. Suasana ruangan kamarnya berantakan dan terasa panas meskipun ber-AC. Barang-barang berserakan dimana-mana. Pikiran Ringgo tidak tenteram. Ia masih teringat akan pembicaraannya dengan Kayla tadi. Bapaknya Choky terlibat?

Ringgo pun teringat akan cerita Kayla saat kedua orang tua Choky mendatangi rumah Kayla dan meminta anaknya kembali, namun Kayla menolak. Kayla beralasan Choky yang tidak mau berpisah dari dirinya. Sejak kejadian itu, Kayla kerap di telepon oleh penelepon gelap yang terus mengancam dirinya serta selebaran-selebaran gelap yang isinya menghujat dan mengumpat Kayla.

Ringgo sendiri pernah meminta agar Kayla menyerahkan saja Choky kepada orang tuanya, namun Kayla menolaknya. Alasan Kayla, papanya Choky berniat menjual anak kandungnya sendiri untuk menebus utang-utangnya, sedangkan ia tak tega jika hal itu yang terjadi pada Choky, meskipun Kayla tidak dapat membuktikannya. Selain itu cinta Kayla yang dalam kepada Choky sepertinya tidak mampu memisahkan mereka. Begitupula Choky sangat mencintai mama angkatnya. Pernah pada suatu waktu saat Ringgo sedang berada di rumah Kayla, ibu kandung Choki datang ke rumah Kayla hendak membawa Choky pulang. Saat itu Kayla setuju, namun sayangnya Choky menolak. Ia menangis meronta-ronta. Dengan terpaksa, Choky kembali dititipkan pada Kayla. Sejak saat itu, Choky selalu bersama Kayla.

Ringgo bangkit berdiri. Dengan bertelanjang dada, ia mengambil lagi sebungkus rokok di atas meja kerjanya. Ia mengambil sebatang lalu menyalakannya, setelah itu menghisapnya dalam-dalam. Ruangan kamarnya semakin terasa panas dan sesak seiring kepulan asap rokok yang keluar dari mulutnya. Tapi ia tidak peduli.

Sambil kembali menghisap rokoknya, Ia duduk dan meyalakan komputernya. Di layar monitornya terlihat foto wallpaper dirinya bersama Kayla dan Choky sedang tertawa bersama di sebuah tempat rekreasi. Kayla begitu cantik, lesung pipitnya begitu jelas terlihat jika sedang tertawa. Kulitnya yang putih bersih dan bola matanya yang bulat menambah kecantikan rupa Kayla dan membuat Ringgo mabuk kepayang.

Ringgo sendiri lumayan ganteng. Berumur sekitar 27-an, berbadan tinggi kekar, kulit sawo matang, rambut ikal lebat, hidung mancung, bibir tipis dan hitam (karena sering merokok) dan dagu persegi. Belum lagi kumis tipis yang tumbuh di atas bibirnya dan bulu-bulu halus yang dibiarkan tumbuh di dagunya, menambah kejantanan Ringgo. Choky pun tidak kalah menarik. Wajahnya yang lucu dan menggemaskan sanggup membuat siapapun yang melihatnya akan tersenyum. Meskipun masih kecil, tapi Choky senang di foto. Tampak Choky begitu gemuk dan lucu. Ringgo sendiri sebenarnya sayang dengan Choky, ia bahkan tidak menolak jika kelak ia menikah dengan Kayla, maka Choky pun akan menjadi anaknya.

Ringgo mulai membuka file-file yang isinya adalah foto-foto dan video kemesraan dirinya dengan Kayla dan Choky. Ia pun tersenyum saat melihat rekaman video Choky yang sedang menangis akibat terjatuh dari sepeda roda dua dan dirinya yang sedang memapah Choky berjalan. Kayla yang merekam kejadian itu.

Mendadak jam weker Ringgo berbunyi. Waktu sudah menunjukkan jam empat pagi. Ia kembali teringat hasil pembicaraannya dengan Tigor.

“Tak mungkin aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu” desis Ringgo. Orang tua Kayla sendiri sudah memberitahukan kepadanya kalau mereka sudah melaporkannya pada polisi dan tidak punya uang sebanyak itu. Masalah ini tidak bisa dibiarkan, harus segera diselesaikan!, batin Ringgo.

Ringgo bertekad untuk menyelidiki masalah ini dengan atau tanpa bantuan polisi. Ia pun mulai menyusun strategi dan bermaksud menyampaikan-nya pada polisi.

Setelah itu, Ringgo bangkit dari duduknya dan tak lupa mematikan komputernya. Tanpa ragu-ragu ia menghempaskan dirinya ke atas tempat tidurnya tanpa melihat lagi ke belakang. Tubuhnya begitu kaku dan penat. Begitu juga pikirannya. Belum pernah ia merasa selelah ini. Sambil memijit-mijit dahi kepalanya, ia memejamkan matanya. Ia pun tertidur kecapaian.

 

BERSAMBUNG

 

 

About The Author

Arya Janson Medianta 40
Pena

Arya Janson Medianta

Maju terus, pantang mundur

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel