Ketika Cinta Bicara(When Love Talks)

30 Mar 2016 16:29 4186 Hits 4 Comments
Kisah mengenai perjuangan cinta seorang wanita bernama Kayla dengan anak kecil bernama Choki yang hendak dijual ayahnya Choki karena terlilit hutang, selain itu kisah cinta Kayla dengan pria bernama Ringgo dan persahabatan antara Kayla dan Nina juga menjadi daya tarik cerita ini.

 

Selasa, pukul 03.30 pagi…

 

Kayla terbangun. Ia membuka matanya. Tubuhnya tidak dapat bergerak. Ia menutup matanya sekali lagi dan membukanya kembali. Seketika ia merasakan sakit kepala yang luar biasa. Ia menarik nafas dalam-dalam. Perlahan Kayla mencoba mengamati sekitarnya. Ia sadar, kini berada di tempat yang tidak dikenalnya. Semenit kemudian dia mulai menggerakkan tubuhnya, namun tiba-tiba ia merasakan seluruh tubuhnya sakit seperti habis dicambuk. Perih sekali….

“Adduuuhhh….” Ia mengerang. Ada apa ini, pikirnya dalam hati. Kayla mulai menyusun kekuatannya sekali lagi dengan mencoba menggerak-gerakkan kepalanya. Sambil menahan rasa sakit ia mencoba mendongakkan kepalanya.

“Mmmppffhhh…..”, sambil menggigit bibirnya ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendongakkan kepalanya, namun ia merasakan kepalanya seperti tertimpa bongkahan batu besar. Tidak berhasil. Ia pun mencoba untuk bangkit.

Dengan sisa-sisa tenaganya, ia menggerakkan tubuhnya ke atas. Saat itu juga rasa sakit menjalar keseluruh tubuhnya. Ia berusaha bertahan, namun tetap tidak berhasil. Ia mencoba sekali lagi, namun tetap sia-sia. Dan ia pun menyerah.

Sambil menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tetap tenang, ia mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan dirinya sebelumnya….

 

***

 

Senin, 09.00 WIB pagi….

 

“Selamat pagi, ibu Kayla…,” seorang bapak setengah baya masuk ke dalam ruangan dengan membawa secangkir kopi hangat untuk atasannya.

“Ini kopinya, bu…” Bapak yang bernama Ahmad itu meletakkan kopinya di atas meja kerja Kayla.

“Terima kasih, pak Ahmad.” Sambil menebarkan senyum khas yang menampakkan lesung pipitnya, Kayla bergumam dalam hati, Pak Ahmad memang seorang office boy yang ramah…

Kayla adalah seorang wanita yang menarik. Berumur 26 tahun dan baru saja seminggu yang lalu merayakan usianya yang sekarang. Berambut lurus dengan panjang seleher, tinggi sekitar 165 cm dan berat 52 kg dan berkulit putih bersih. Ia mempunyai mata yang bulat dan indah seperti mata kucing, berhidung mancung, mempunyai bibir yang agak tipis namun berisi dan ada lesung pipit di kiri kanan pipinya. Dagunya yang panjang semakin memancarkan pesona kecantikannya.

Kayla senang tersenyum dan ramah pada setiap orang. Ia senang bergaul dan cepat beradaptasi dengan banyak orang. Ia juga seorang pekerja keras dan tak mudah menyerah. Ia tidak mau kalah. Keberhasilan orang lain memacu dirinya supaya lebih berhasil. Sedikit melankolis dan perfeksionis memang, tetapi ia tidak pernah memaksa orang lain untuk mengikuti kehendaknya. Ia seperti perpaduan yang sempurna antara sanguine, melankolis, plegmatis dan koleris.

Cukup mengenai kepribadian Kayla. Sekarang ia berada di ruangan kantornya, duduk dan menyeruput kopi pagi yang khas baunya buatan pak Ahmad. Hmmm, kopi khas Sidikalang yang menjadi kegemaran Kayla ini harum dan nikmat sekali rasanya. Tak berapa lama, sambil membawa kopi, Kayla menuju ke arah jendela kantor, dan seperti sudah menjadi kebiasaannya ia melihat-lihat orang-orang di bawahnya dari jendelanya, mengamat-amati sambil menyeruput kembali kopinya yang masih panas itu.

“Pagi ibu Kayla, apa saya mengganggu?” seorang pria bersuara berat mengganggu keasyikan Kayla menikmati kopi kegemarannya.

“Oh, Ferdy. Nggak mengganggu koq. Silakan masuk. Ada apa Fer?”

“Ini berkas-berkas laporan yang kemarin ibu minta, sudah saya siapkan. Silakan ibu periksa.”

“Oke. Cepat sekali ya. Ya sudah, taruh di meja saya, nanti saya periksa.”

“Baik bu. Permisi …”

Ferdy adalah salah seorang anak buah Kayla. Orangnya ganteng, perwakan sedang, agak buncit, berumur sekitar 25 tahun, dan seorang yang rajin. Ia menjadi andalan Kayla untuk mengerjakan tugas-tugas berat.

“O iya Fer, hampir lupa, nanti kamu ikut saya ya meeting di lantai 3. Siapkan juga bahan-bahan untuk meeting nanti. Kita meeting jam 10.00.”

“Baik, bu …” Ferdi pun bergegas keluar dan menutup pintu perlahan.

 

***

 

 “Meeting yang melelahkan…” gumam Kayla. Ia melirik jam tangan kesayangannya yang selalu setia berada di tangan kanannya. “Wah, sudah jam 4 sore, padahal masih ada beberapa hal lagi yang belum disampaikan dalam rapat….” Ia berbicara sendiri.

“TOK…TOK…TOK!!” Ketukan pintu yang keras mengagetkan Kayla, “Ohh!! Yy..ya… silahkan masuk…”

“Hai, ibu Manajer, kaget ya… Sorry, sengaja… he..he..he!!!” Seorang wanita cantik membuka pintu dan langsung masuk ke ruangan Kayla tanpa rasa sungkan sedikitpun.

“Sudahlah non, don’t push it to hard. Sudah sore nih, kerjaannya besok saja dilanjutkan. Yuk kita ke mall…!”

“Nina…, I knew it!!” Kayla memekik tertahan.

“Kayla, gue kan sudah bilang kalau gue mau datang hari ini, kita kan sudah janji kemarin.” Tanpa basa-basi Nina langsung menjatuhkan dirinya ke sofa empuk warna merah muda, warna kesukaan Kayla.

“Nina, kamu nggak kerja apa, jam segini koq sudah keluar kantor…? ka…”

Belum selesai Kayla bicara, Nina sudah memotongnya…, “Gue sudah bilang sama Rosa, kalau gue lagi dapet, jadi gue nggak masuk kantor, beres kan ?” Nina menyilangkan kakinya. Kayla tersenyum kecut.

But I can’t Nina, I have so much work to do, aku masih ada meeting….” Belum lagi Kayla selesai bicara, Nina memotong, “Ok, I’ll wait here until you finished meeting, bisa kan ?” Sepertinya Nina punya kebiasaan memotong pembicaraan orang. Kayla pun terdiam menahan jengkel.

Kembali ketukan pintu terdengar. “Masuk…” Kayla menjawab.

“Bu, rapatnya sudah bisa dimulai? Semua sudah di ruangan rapat, tinggal menunggu ibu.” Suara yang berat itu kembali terdengar.

“Hai, Ferdy…” Nina menyapa dan tersenyum tanpa malu-malu. Ia melambaikan tangannya penuh arti. Sang pemilik suara berat yang adalah Ferdy membalas sapaan dan lambaian Nina dengan tersenyum ke arah Nina yang tak tahu malu itu.

“Baiklah kalau begitu…, saya segera kesana. Kamu di sini saja ya, Nin…”

“Baik, as usual…” Nina berdiri dan berjalan ke arah Kayla yang sedang merapikan berkas-berkas untuk dibahas dalam rapat. “I think he crushed on you…” Nina berbisik sambil memegang tangan Kayla yang akan bergegas keluar ruangannya. Kayla menoleh ke arah Nina, sambil mengernyitkan dahi ia menyahut, “Ridiculous…” Nina tersenyum. Sambil setengah berlari Kayla meninggalkan temannya yang usil itu.

Sekarang kita bahas ciri-ciri fisik teman Kayla yang satu ini. Kulit putih, rambut keriting spiral, bermata bulat sayu, hidung mancung khas Indonesia, bibir tipis dan tinggi badan sedikit lebih tinggi dibanding dengan Kayla. Nina lahir dan besar di Jakarta, namun bekerja di kota Medan. Sebenarnya Nina punya obsesi menjadi model terkenal, sayangnya mimpi itu tidak pernah jadi kenyataan. Ia terdampar bekerja di satu perusahaan di kota Medan yang menempatkan dia bekerja di bagian administrasi. Sebuah pekerjaan yang menurut Nina sangat membosankan. Meskipun begitu, penampilannya bak selebriti. Semua yang pernah mengenal Nina tidak akan menyangka bahwa dibalik penampilannya yang glamour, ternyata ia hanya seorang pegawai dengan gaji pas-pasan. Tapi dia tak peduli. Selama anjing tidak menggigit, kafilah tetap berlalu.

 

***

 

Malam yang cerah mewarnai keramaian di salah satu kawasan segitiga di kota Medan. Tempat yang cocok untuk dijadikan tempat melepas penat setelah seharian bekerja. Di salah satu plaza terkenal di kota ini, seperti biasa dua tokoh wanita cantik kita tengah beroperasi menyisir tiap sudut ruangan di toko pakaian, kemudian dengan tidak bosannya keluar masuk toko mencari peralatan perang mereka yang dibutuhkan untuk memenuhi selera hedonis mereka sebagai wanita karir masa kini yang penuh dengan kemewahan materi, kalau tidak mau dikatakan miskin dan ketinggalan zaman.

“Kay…kita stopby di sini aja ya, gue lapar nih…”. Nina menarik tangan Kayla setelah sebelumnya memindahkan barang belanjaannya yang disebelah kiri dan menuju ke food court terkenal di plaza itu dan yang mempunyai banyak cabang di kota Medan.

Belum lagi bicara, smartphone Kayla berdering,

“Halo Kay…, lagi di mana? Pasti lagi sama Nina, miss sosialita kita itu kan?” terdengar suara seorang lelaki penuh curiga.

“Itu abang tahu. Memangnya ada apa sih, bang?” Kayla menyahut dengan suara meninggi.

Nina yang merasa dirinya dibicarakan langsung merengut.

“Kita kan sudah janji makan malam sekarang. Aku sudah satu jam nunggu di rumahmu, kamu lupa ya?” orang itu menjawab dengan ketus.

“Ohh!!” Kayla memekik. Spontan tangan kanannya menutupi mulutnya.

“I... iya sih…” suara Kayla memelan menyadari kesalahannya.

“Oke kalau begitu, Abang tunggu kamu setengah jam lagi. Cepat ya?!”

Klik!. ponsel pun dimatikan.

“Dari siapa Kay, don’t tell me dari bang Ringgo….” Nina melirik.

“Iya Nin, dari bang Ringgo. Aku memang sudah janji, hari ini kita ada dateSorry, kayaknya aku nggak bisa having dinner bareng kamu. Kamu makan sendiri aja ya? Nggak papa, kan?” Kayla memohon.

“APPPAAA??!!” suara Nina meninggi. Dalam sekejap waktu seperti berhenti. Suara musik dan langkah lalu lalang orang-orang di sekitar mereka juga seperti berhenti. Semua orang yang ada di sekitar mereka terdiam dan menoleh kaget ke arah mereka.

“Gue sudah pesan makanan favorit gue, Kay. Lu tega banget sih. Masa’ gue makan sen…”

Tanpa basa-basi Kayla mengambil langkah seribu dan berlari meninggalkan Nina yang terbengong-bengong melihat kelakuannya.

“…diri….. #%@##!!!”(maaf, disensor).

 

***

 

Senin, 19.17 WIB...

 

Sebaris pasukan semut hitam sedang berpesta pora membawa butiran-butiran nasi yang tercecer dari sebuah bungkusan nasi di sekitar tumpukan tempat sampah. Di sekitar tempat tersebut sebuah Kijang Kapsul berwarna hitam sedang terparkir tak jauh dari situ.

“Malam, Boss. Sudah di lokasi, nih.” Terdengar suara seorang laki-laki sedang berbicara melalui handphone dari dalam mobil tersebut.

“Bagus. Kalian sudah bisa masuk sekarang. Ingat, jangan sampai ada yang curiga. Terutama korban, OK??!” seseorang yang disebut Boss menyahut.

“OK, Boss.”

“Kamu masih ingat aturan mainnya, kan?”

“Masih, Boss.”

“Sekali lagi ingat ya, jangan ceroboh dan jangan sampai ada yang curiga!”

“Iya Boss, bereess!!“

Klik!.

Hand phone ditutup.

Mereka pun bergegas masuk ke dalam plaza.

 

***

 

Kayla berlari kencang menuju ke arah lift sambil menenteng barang belanjaan yang baru saja dia buru. Mudah-mudahan liftnya tidak penuh, doa Kayla dalam hati. Lift pun terbuka. Syukurlah, hanya tiga orang saja yang ada di dalam lift. Kayla masuk dan memencet tombol lantai dasar. Sambil menunggu, dia berusaha mencari karcis parkir dan kunci mobil dalam tas Bonia kesayangannya. Dapat. Oke, sekarang tinggal pulang ke rumah.

“Tik tok, tik tok…” Bunyi jam kesayangan Kayla seperti memecah keheningan suasana. Inilah saat-saat yang membosankan. Turun dari lantai 3 menuju lantai lower ground (LG) bukanlah saat-saat yang menyenangkan bagi Kayla yang sedang dikejar setan waktu. Lift berhenti di lantai 2. Sepasang kekasih yang sedang dicandu asmara memasuki lift dengan santainya. Di belakangnya seorang lelaki berkumis dan berkaca mata hitam ikut memasuki lift. Sekarang lift mulai penuh.

Please, jangan lagi ada yang memasuki lift ini. I’m in hurry, pinta Kayla dalam hati. Dan doa itu tidak pernah terwujud. Lift terbuka di setiap lantai. Keluar masuk orang-orang itu sedikit membuat Kayla pusing. Sampai akhirnya di lantai paling dasar, orang-orang pun keluar berdesak-desakan.

“Menyebalkan!” gerutu Kayla pelan.

Setelah keluar dari lift, Kayla berusaha mencari mobilnya. Banyaknya orang-orang yang mengunjungi plaza ini membuat Kayla terpaksa memarkirkan mobilnya di tempat yang agak jauh dan tersembunyi.

“Itu dia !” teriak Kayla senang.

Kayla mempercepat langkahnya menuju ke blok parkir tempat dimana mobilnya berada. Suasana mulai berubah sepi. Hanya Kayla sendiri yang berjalan menuju ke blok parkir yang letaknya paling ujung tersebut. Samar-samar ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya yang seperti mengikutinya. Bulu kuduknya berdiri. Ia merinding. Karena penasaran, ia memutuskan untuk menengok ke belakang. Zap!. Tidak ada siapa-siapa.

Aneh, aku yakin sekali ada orang yang membuntutiku di belakang. Padahal hanya aku saja yang berjalan kemari... Ah, sudahlah, mungkin perasaanku saja, Kayla membatin. Ia pun memberanikan diri berjalan kembali menuju ke mobilnya yang tinggal beberapa meter lagi dekatnya.

“Klik, klok!,” alarm dari sebuah mobil Kijang Innova berwarna biru metalik berbunyi. Kayla membuka pintu tengah mobilnya dan menaruh barang-barang belanjaannya dan menutupnya kembali.

Ketika ia membuka pintu depan mobilnya, saat itu ia merasakan hawa sekitarnya terasa panas. Ada orang di belakangnya!. Belum sempat ia menengok ke belakang, sepasang tangan yang kasar dengan saputangan yang ternyata telah dibubuhi obat bius mendekap erat ke hidung dan mulut Kayla. Kayla merasa sesak dan tidak dapat berteriak. Ia meronta-ronta. Saat itu juga ia merasakan benturan keras seperti tertimpa batu besar di kepalanya.

“BUUUKKK!!!” Kayla terhuyung-huyung, badannya seperti dililit ular phyton raksasa. Matanya berkunang-kunang. Sebelum ia tak sadarkan diri, ia masih berusaha melihat sekelilingnya dengan sisa-sisa kekuatannya. Saat itulah ia melihat sesosok bayangan seorang pria yang berdiri didepannya dan seorang lagi masih mendekap ia dengan eratnya. 

 

BERSAMBUNG...

 

 

 

About The Author

Arya Janson Medianta 40
Pena

Arya Janson Medianta

Maju terus, pantang mundur

Comments

You need to be logged in to be able to post a comment. Click here to login
Plimbi adalah tempat menulis untuk semua orang.
Yuk kirim juga tulisanmu sekarang
Submit Artikel